Jawa Pos Radar Madiun - Memimpin institusi pendidikan keagamaan di era disrupsi digital menuntut adanya kelenturan kebijakan yang adaptif tanpa menerabas sekat-sekat nilai moralitas spiritual.
Madrasah dan pondok pesantren tidak boleh lagi dipandang sebelah mata sebagai lembaga tradisional, melainkan harus bertransformasi menjadi pusat pengondisian SDM unggul yang sehat, kompetitif, dan melek teknologi.
Visi transformatif inilah yang sukses diinjeksikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Magetan, Dr. H. Taufiqurrohman, M.Ag.
Melalui berbagai rangkaian draf program yang progresif, ia berhasil merombak tata kelola birokrasi dan mutu pendidikan keagamaan di lereng Gunung Lawu menjadi lebih dinamis, akuntabel, dan kompetitif.
"Penghargaan ini merupakan buah dari komitmen dan kerja keras kolektif seluruh insan pendidikan madrasah serta pesantren di Magetan.
Kami ingin memastikan lembaga pendidikan keagamaan mampu beradaptasi cepat dengan kemajuan zaman tanpa sedikit pun menanggalkan fondasi nilai-nilai spiritualnya,"
terang Kepala Kantor Kemenag Magetan, Taufiqurrohman.
Baca Juga: Ratusan Pelajar Ramaikan Exmud Party 2026, Ajang Kreativitas yang Siapkan Generasi Digital
Salah satu inovasi mercusuar yang memantik perhatian publik adalah program Gema Adimas atau Gerakan Madrasah Adiwiyata, Ramah Anak, dan Sehat.
Cetak biru program ini didesain secara holistik untuk mengondisikan lingkungan madrasah agar menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, inklusif, sekaligus peka terhadap kelestarian ekologi sekitar.
Lompatan besar juga ditunjukkan Taufiqurrohman di sektor teknologi informasi. Kemenag Magetan melakukan akselerasi digitalisasi secara masif,
mulai dari pembenahan manajemen lembaga, pembaruan metode pembelajaran berbasis digital, hingga penguatan validasi sinkronisasi data pendidikan terpadu
melalui optimalisasi sistem EMIS (Education Management Information System) secara berkala di tingkat madrasah, madrasah diniyah, hingga TPQ.
Bergeser ke sektor pendidikan komunal, Kemenag Magetan secara taktis mengembangkan program kemandirian pesantren.
Program ini mendorong setiap pondok pesantren untuk mengaktifkan unit usaha mandiri demi membangun sirkular ekonomi internal yang kokoh guna menopang operasional pendidikan.
Guna menjamin mutu SDM, Taufiqurrohman intensif menggelar asesmen kompetensi guru serta memperkuat sinergi lintas sektor dengan jajaran Puskesmas, Bappeda, hingga Badan Akreditasi Nasional.
Melalui pendekatan emosional dan spiritual yang kuat, ia juga rutin memberikan penghargaan bagi para guru dan kepala madrasah berprestasi guna memupuk iklim kompetisi yang sehat.
Ke depan, draf pilot project seperti kelas unggulan dan kelas berbasis cinta siap digulirkan secara masif.
Atas dedikasi tinggi, keberhasilan memimpin birokrasi, serta kontribusi nyata dalam melahirkan ekosistem madrasah modern yang bermartabat di Kabupaten Magetan ini,
Dr. H. Taufiqurrohman, M.Ag. dianugerahi penghargaan Special Achievement dalam ajang Radar Madiun Education Awards 2026.
Capaian prestisius ini menjadi energi baru bagi Kemenag Magetan untuk terus melangkah maju.
Termasuk program berkelanjutan Tahfidzil Qur’an dan Kitab Kuning mulai dari tingkat RA, MI, MTs, dan MA.
"Kami akan terus melahirkan terobosan-terobosan baru agar madrasah dan pondok pesantren di Magetan semakin dicintai, dipercaya, dan dipilih oleh masyarakat luas sebagai lembaga pendidikan yang unggul serta relevan dengan kebutuhan masa depan," pungkasnya. (chi/ser/naz)
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun