Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman kemarau panjang mulai membayangi Kabupaten Magetan.
Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino diperkirakan menguat pada Agustus hingga November 2026, sehingga berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan.
Kondisi tersebut juga diperkirakan menyebabkan musim hujan datang lebih lambat dibanding biasanya.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Tingkat Madya Stasiun Geofisika III BMKG Nganjuk Setiyaris mengatakan, hasil pemodelan iklim menunjukkan suhu muka laut di Samudra Pasifik terus mengalami peningkatan.
Menurutnya, kondisi tersebut diperkirakan mendorong perkembangan El Nino dari kategori lemah menjadi sedang hingga kuat pada paruh kedua tahun 2026.
"Pada kondisi sekarang, El Nino dan IOD belum memberikan dampak signifikan terhadap pola hujan di sebagian besar wilayah Indonesia," ujarnya, Rabu (1/7).
Namun, memasuki periode Agustus hingga November, El Nino diproyeksikan semakin menguat bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) yang beralih ke fase positif.
Kombinasi kedua fenomena iklim tersebut diperkirakan mengurangi pasokan uap air ke wilayah Indonesia sehingga curah hujan menurun dan musim kemarau berlangsung lebih lama.
Meski demikian, Setiyaris menegaskan kondisi tersebut tidak serta-merta membuat seluruh wilayah mengalami kekeringan ekstrem.
Faktor cuaca lokal masih memungkinkan terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di sejumlah daerah.
Karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah, sektor pertanian, serta masyarakat mulai menyiapkan langkah antisipasi sejak dini, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan mitigasi potensi kekeringan.
"Kami mengimbau pemerintah daerah, petani, hingga masyarakat mulai menyiapkan langkah antisipasi, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan mitigasi potensi kekeringan apabila El Nino berkembang sesuai proyeksi," pungkasnya. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto