Jawa Pos Radar Magetan - Wacana regrouping atau penggabungan sekolah di Kabupaten Magetan belum akan diputuskan dalam waktu dekat.
Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) memilih menahan diri hingga seluruh tahapan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) benar-benar selesai.
Langkah itu diambil agar kebijakan yang nantinya diterapkan benar-benar berdasarkan kondisi riil jumlah peserta didik di setiap sekolah, bukan sekadar perkiraan awal.
Kepala Dindikpora Magetan Suhardi mengatakan pihaknya belum ingin terburu-buru menentukan sekolah yang akan masuk dalam program regrouping.
Sebab, pemetaan baru dapat dilakukan secara akurat setelah seluruh siswa mulai aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar.
"Setelah tahapan SPMB dan MPLS selesai, nanti akan terlihat mapping sekolah mana saja yang berhak menjadi perhatian khusus dengan berbagai pertimbangan yang harus kami tindak lanjuti," ujarnya, Senin (6/7).
Menurutnya, hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan lanjutan terkait penataan sekolah di Magetan.
"Karena itu, kami memilih tidak terburu-buru mengambil keputusan sebelum memperoleh data yang benar-benar valid," jelasnya.
Suhardi menjelaskan, jumlah siswa baru di setiap sekolah masih sangat dinamis meski proses penerimaan peserta didik hampir selesai.
Perubahan jumlah murid kerap terjadi hingga hari pertama masuk sekolah.
Karena itu, Dindikpora memilih menunggu kondisi benar-benar stabil sebelum mengambil langkah strategis.
"Kami ingin mendapat gambaran riil," sebut Suhardi.
Ia mengungkapkan masih ada orang tua yang baru menyelesaikan administrasi sekolah menjelang atau bahkan saat MPLS berlangsung.
Kondisi tersebut membuat data jumlah peserta didik baru masih berpotensi berubah.
"Jadi nanti akan lebih jelas setelah MPLS saat siswa mulai masuk sekolah tahun ajaran baru 2026/2027. Karena terkadang ada orang tua yang baru mengantarkan anaknya pada hari-hari terakhir atau saat MPLS," urai Suhardi. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto