Jawa Pos Radar Madiun - Akselerasi program penanggulangan masalah gizi buruk kronis pada anak di tingkat akar rumput terus digenjot lewat jalur kolaborasi intensif antara sektor akademis dan jajaran pemerintah desa.
Upaya percepatan penurunan angka stunting terus diperkuat melalui pemberdayaan masyarakat.
Salah satunya dilakukan Program Studi D-3 Kebidanan Magetan Poltekkes Kemenkes Surabaya yang menggelar pelatihan kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) berbasis Health Promotion Model (HPM) di Desa Milangasri, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Selasa (30/6).
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam menjalankan fungsi promotif, preventif, dan edukatif untuk mencegah serta menanggulangi stunting di tingkat desa.
Sebanyak 40 kader dari empat Posyandu ILP di Desa Milangasri mengikuti pelatihan dengan antusias.
Mereka dibekali materi mengenai konsep dasar stunting, faktor risiko, pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pemantauan status gizi balita menggunakan standar antropometri, pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI sesuai usia, hingga penerapan Health Promotion Model dalam promosi kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Dari Arogan di Jalan Berujung Diborgol di Kantor Polisi: Akhir Perjalanan Bang Jago Jagakarsa
Kolaborasi Teori dan Praktik Pengukuran Antropometri Balita
Guna memastikan draf pemahaman para peserta dapat terwujud nyata saat bertugas, panitia penyelenggara tidak hanya menyodorkan materi di dalam ruang kelas saja.
Tak hanya menerima materi secara teoritis, peserta juga menjalani praktik pengukuran panjang dan tinggi badan balita, penimbangan berat badan, simulasi pengisian Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), teknik konseling kepada ibu balita, serta diskusi kasus yang sering ditemui di lapangan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan kader dalam mendeteksi dini risiko stunting sekaligus memberikan pendampingan yang tepat kepada keluarga.
Langkah taktis penguatan kapasitas garda terdepan kesehatan desa ini mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya dari pihak otoritas draf pemerintahan desa setempat.
Sekretaris Desa Milangasri, Fatehah, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai mampu menyuntikkan keahlian baru yang sangat dibutuhkan oleh para kader.
Menurutnya, pelatihan menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas kader Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat di desa.
"Pemerintah Desa Milangasri menyambut baik kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan dosen dan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surabaya. Pelatihan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan kader Posyandu ILP untuk mendukung pencegahan dan penanggulangan stunting," ujarnya.
Baca Juga: Jadwal AVC Boys U18 Championship 2026: Indonesia Hadapi Tuan Rumah di Match Pertama
Peningkatan Keterampilan dan Komitmen Kunjungan Rumah
Di sisi lain, ketua tim pelaksana pengabdian dari perguruan tinggi kedinasan tersebut memaparkan bahwa penggunaan formula psikologi promosi kesehatan terbukti efektif merangsang kepedulian kader.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Surabaya, Dr. Agung Suharto, mengatakan pendekatan Health Promotion Model terbukti mampu meningkatkan motivasi kader sebagai agen perubahan perilaku kesehatan di masyarakat.
Keterlibatan aktif seluruh elemen draf posyandu di wilayah Panekan ini memperlihatkan grafik pemahaman draf kesehatan yang melompat jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
"Secara umum kegiatan berjalan sesuai rencana dan mendapat respons positif dari seluruh peserta. Pendekatan berbasis Health Promotion Model mampu meningkatkan motivasi kader dalam menjalankan perannya sebagai agen perubahan perilaku kesehatan di masyarakat," jelasnya merinci hasil evaluasi belajar.
Evaluasi kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader, mulai dari pemahaman mengenai faktor risiko stunting, kemampuan melakukan pengukuran antropometri sesuai standar, hingga keterampilan memberikan edukasi kesehatan kepada keluarga balita.
Selain itu, pelatihan juga menghasilkan komitmen bersama antara kader, pemerintah desa, dan tenaga kesehatan untuk memperkuat pelayanan Posyandu ILP melalui pemantauan pertumbuhan balita secara rutin, edukasi gizi bagi ibu hamil dan ibu balita, kunjungan rumah kepada keluarga berisiko stunting, serta penguatan koordinasi lintas sektor.
Melalui kegiatan tersebut, Poltekkes Kemenkes Surabaya berharap Posyandu ILP semakin berperan sebagai pusat pelayanan kesehatan primer berbasis masyarakat.
Penguatan kapasitas kader diharapkan menjadi salah satu kunci dalam mendukung program pemerintah mempercepat penurunan prevalensi stunting secara berkelanjutan, sekaligus membangun budaya hidup sehat sejak tingkat keluarga. (*)
Editor : Mizan Ahsani