Oleh: Eka Radityo (Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magetan)
Alam selalu memiliki cara tersendiri untuk menyapa dan memberikan pelajaran berharga.
Setelah musim penghujan perlahan pergi, kini kemarau panjang datang berkunjung bak tamu usang yang tidak bisa kita tolak kehadirannya.
Bagi kita yang hidup tenteram di bawah naungan keagungan Gunung Lawu, pesona alam yang memukau ini juga menitipkan amanah yang sungguh besar.
Ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan mulai mengintai dari balik rimbunnya pepohonan yang kian memudar warnanya karena kehilangan sentuhan titik air.
Sebagai manusia yang rapuh di hadapan putaran siklus semesta, kita tidak boleh hanya duduk berserah diri tanpa daya.
Baca Juga: Michael Olise Pulang Bawa Predikat Raja Assist Piala Dunia 2026, Patahkan Rekor Pele
Berdasarkan data pemetaan kerawanan terbaru, wilayah pinggiran seperti Kecamatan Parang, Lembeyan, dan Karas kerap kali menjadi titik yang paling merindukan aliran air bersih saat kemarau memuncak.
Menyikapi hal tersebut, langkah antisipasi telah dirajut dengan saksama.
Tandon penampungan mulai disiagakan dan armada tangki air dipanaskan, siap menjadi nadi buatan yang mengalirkan kehidupan ke dusun dahaga.
Beralih menuju dataran yang jauh lebih tinggi, lereng Lawu menyimpan kerawanan lain yang harus diwaspadai bersama.
Semak belukar yang mengering bak lautan kayu bakar yang diam menunggu satu pemantik kecil.
Kita amat paham, setitik api kelalaian manusia bisa seketika berubah wujud menjadi naga merah yang rakus melahap belantara tanpa ampun.
Baca Juga: Galaxy Z Flip Terancam Punah? Samsung Dirumorkan Bakal Setop Produksi setelah Seri 8
Oleh sebab itu, benteng kesiapsiagaan terus diperkuat secara sinergis. Patroli gabungan antara Perhutani, TNI-Polri, BPBD, relawan, dan warga lokal rutin dilakukan di area rawan.
Pembuatan sekat bakar juga digalakkan agar api tidak leluasa menari melintasi rimbunnya hutan cemara.
Pada akhirnya, perisai paling tangguh sesungguhnya adalah kesadaran yang tumbuh subur di dalam dada setiap warga.
Kesiapsiagaan menghadapi kemarau bukanlah tentang kesombongan menantang kekuatan alam, melainkan bentuk kerendahan hati untuk belajar beradaptasi, menjaga keseimbangan, dan mawas diri.
Mari bergandengan tangan, saling mengingatkan tetangga untuk merawat setiap tetes air serta mencegah percikan api demi kelestarian alam Lawu.
Editor : Mizan Ahsani