Harga Telur di Magetan Anjlok, Produksi 79,2 Ton Sehari Jauh Lampaui Konsumsi

Aprilita Sari • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 16:20 WIB
CARI SOLUSI: Kapolres Magetan AKBP Raden Erik Bangun Prakasa memimpin audiensi lintas sektoral membahas anjloknya harga telur di Mapolres Magetan. (Aji Putra/Jawa Pos Radar Magetan)
CARI SOLUSI: Kapolres Magetan AKBP Raden Erik Bangun Prakasa memimpin audiensi lintas sektoral membahas anjloknya harga telur di Mapolres Magetan. (Aji Putra/Jawa Pos Radar Magetan)

Jawa Pos Radar Madiun – Pasokan telur ayam ras di Kabupaten Magetan sedang berlimpah.

Produksinya mencapai 79,2 ton per hari, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat setempat hanya sekitar 30,3 ton. Surplus tersebut ikut menekan harga telur di tingkat peternak.

Persoalan itu sampai menyita perhatian Polres Magetan. Satgas Pangan mempertemukan peternak, pedagang, Pemkab Magetan, dan DPRD dalam audiensi untuk mencari jalan keluar sekaligus menjaga stabilitas harga.

Kapolres Magetan AKBP Raden Erik Bangun Prakasa mengatakan, forum lintas sektoral tersebut digelar untuk menyamakan persepsi seluruh pemangku kepentingan. Terlebih, peternak juga dihadapkan pada tingginya biaya pakan.

‘’Harapan kami lewat komunikasi terbuka ini melahirkan langkah konkret yang mampu menyokong peternak lokal sekaligus menjaga stabilitas harga telur di Magetan,’’ ujar Erik, Sabtu (8/8).

Salah satu upaya yang didorong adalah memperbesar penyerapan produksi telur lokal.

Erik menginstruksikan seluruh kapolsek berkoordinasi dengan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah masing-masing.

SPPG didorong memprioritaskan pasokan telur dari peternak lokal untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah tersebut diharapkan membantu menyerap surplus produksi yang selama ini menekan harga di tingkat peternak.

Polres juga mendukung imbauan pemkab agar aparatur sipil negara (ASN) membeli telur produksi peternak lokal sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP).

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Magetan Nur Haryani mengungkapkan, ketimpangan antara produksi dan konsumsi menjadi salah satu pemicu anjloknya harga.

Saat ini terdapat sekitar 2,9 juta ekor ayam petelur yang dikelola 1.036 peternak di Magetan. Produksinya mencapai 79,2 ton telur setiap hari.

Di sisi lain, konsumsi masyarakat Magetan hanya sekitar 30,3 ton per hari.

Artinya, terdapat selisih produksi dan konsumsi hampir 49 ton per hari yang harus terserap pasar di luar kebutuhan warga setempat.

Program MBG diharapkan ikut membuka pasar bagi peternak.

Namun, kebutuhan telur melalui SPPG diperkirakan baru sekitar tujuh ton per pekan sehingga belum mampu menyerap besarnya produksi.

‘’Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lewat SPPG diperkirakan menyerap tujuh ton telur per pekan. Namun itu belum memadai sehingga kami butuh regulasi pembatasan populasi dari pusat,’’ urai Nur Haryani. (ril/naz)

Editor : Hengky Ristanto
telur ayam ras magetan peternak ayam Mbg harga telur