Jawa Pos Radar Madiun – Efisiensi anggaran pemerintah mulai terasa hingga urusan literasi di daerah.
Distribusi bantuan buku ke desa-desa di Kabupaten Magetan terhenti menyusul menyusutnya alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Magetan mencatat anggaran yang diterima daerah terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut memaksa dinas menyesuaikan sejumlah program di tengah tuntutan menjaga layanan literasi tetap berjalan.
Kepala Dinas Arpus Magetan Endang Ambarwati mengatakan, DAK yang diterima Magetan pada 2025 masih mencapai Rp 1 miliar.
Nilainya kemudian menyusut menjadi Rp 600 juta pada 2026.
Tekanan anggaran diperkirakan berlanjut tahun depan. Berdasarkan pagu 2027, alokasi tersebut diproyeksikan kembali turun menjadi Rp 510 juta.
’’Pemangkasan anggaran Perpusnas dan efisiensi APBD sangat berdampak bagi kami di daerah. Salah satu imbas terbesarnya adalah penghentian total distribusi bantuan buku ke desa-desa,’’ ujar Endang, Minggu (9/8).
Kendati ruang fiskal semakin terbatas, Dinas Arpus berupaya mempertahankan penambahan koleksi bacaan di Perpustakaan Umum Magetan dan Graha Pusat Literasi.
Hanya, penambahan koleksi dilakukan secara terbatas menyesuaikan kemampuan anggaran.
Upaya menjaga layanan literasi tersebut dinilai penting. Terlebih, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) menjadi salah satu indikator kinerja utama bupati.
Dinas Arpus pun mencari jalan lain untuk menjaga geliat literasi masyarakat. Salah satunya memperkuat kolaborasi dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dindikpora) Magetan.
Sinergi tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan perpustakaan sekolah sebagai salah satu pusat aktivitas pendidikan dan literasi.
Di sisi lain, peningkatan kapasitas pengelola perpustakaan tetap dijalankan.
Bimbingan teknis (bimtek) pengelolaan perpustakaan desa, organisasi perangkat daerah (OPD), maupun sekolah bakal terus digelar secara berkelanjutan.
’’Kondisi ini menjadi tantangan untuk mengoptimalkan dana yang ada. Pelayanan kearsipan dan perpustakaan harus tetap berjalan prima demi merawat budaya literasi masyarakat,’’ pungkas Endang. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto