Jawa Pos Radar Madiun – Peternak ayam petelur di Magetan masih harus menelan pahit.
Harga telur di tingkat peternak bertahan di kisaran Rp 19 ribu–Rp 20 ribu per kilogram, jauh di bawah biaya pokok produksi (BEP) sekitar Rp 23.400 per kilogram.
Artinya, setiap kilogram telur yang dilepas ke pasar berpotensi membuat peternak menanggung selisih biaya Rp 3.400 hingga Rp 4.400.
Kondisi tersebut membuat stabilisasi harga dan percepatan penyerapan produksi semakin mendesak.
Persoalan itu kembali dibedah dalam audiensi DPRD Magetan bersama anggota Komisi IV DPR RI Riyono, Paguyuban Ternak Rakyat Indonesia (PTRI) Jawa Timur, serta sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), Sabtu (8/8).
Ketua Komisi B DPRD Magetan Rita Haryati mengatakan, tekanan yang dialami peternak tidak bisa diselesaikan daerah sendirian.
Penanganan lintas sektor dibutuhkan, terutama untuk memperbesar penyerapan telur dan mengembalikan keseimbangan antara pasokan dengan permintaan.
''DPRD Magetan akan terus mendorong dan memperjuangkan apa yang menjadi keluhan para peternak,'' ujarnya.
Koordinasi dengan DPR RI dan Pemkab Magetan bakal terus dilakukan.
Rita berharap langkah tersebut segera menghasilkan solusi konkret agar harga telur kembali bergerak ke level yang setidaknya mampu menutup ongkos produksi.
''Harapannya segera terjadi stabilitas harga dan ada penyerapan. Paling tidak populasinya berkurang sehingga harga telur bisa naik,'' jelasnya.
Anggota Komisi IV DPR RI Riyono menyebut tekanan terhadap peternak ayam petelur tidak hanya terjadi di Magetan.
Anjloknya harga telur, tingginya ongkos pakan, hingga lemahnya penyerapan produksi telah menjadi persoalan di sejumlah daerah.
''Ini sudah menjadi masalah nasional. Berbagai masukan peternak segera kami tindaklanjuti. Harapannya Agustus ini sudah ada hasilnya,'' katanya.
Tak hanya memperbesar penyerapan telur, harga pakan turut menjadi perhatian.
Riyono meminta peternak melapor apabila menemukan produsen menaikkan harga pakan tidak sesuai ketentuan.
Salah satu instrumen yang diharapkan mampu meringankan ongkos produksi adalah percepatan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung.
Riyono menyebut sebanyak 150 ribu ton jagung telah dialokasikan untuk membantu peternak rakyat.
Realisasi program tersebut diharapkan dapat menekan beban biaya pakan yang selama ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam produksi telur.
''SPHP khususnya jagung dialokasikan sampai 150 ribu ton. Mudah-mudahan segera direalisasikan di tengah kondisi peternak kecil yang sekarang sedang berjuang,'' tegasnya. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto