Jawa Pos Radar Madiun - Wayang kulit dan pengajian bakal hadir dalam satu panggung kebersamaan di Dusun Warutunggal, Desa Tegalarum, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Kegiatan yang digelar 29 Agustus 2026 itu menjadi cara warga merawat budaya sekaligus memperkuat nilai keagamaan.
Pagelaran wayang bakal menghadirkan Ki Damar sebagai dalang.
Sebelum pertunjukan dimulai, masyarakat lebih dulu mengikuti siraman rohani bersama Kyai Joyo Wagimun, pengasuh Jamiyah Nurul Mustofa Takeran, Tawanganom, Magetan.
Konsep tersebut lahir dari semangat warga bahwa agama dan budaya tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan selama budaya membawa nilai kebaikan dan agama menjadi pedoman dalam kehidupan.
Bagi masyarakat Warutunggal, menjaga tradisi bukan berarti menjauh dari agama. Sebaliknya, budaya dapat menjadi ruang untuk menyampaikan pesan kehidupan, sedangkan agama memberikan arah agar kebudayaan tetap memiliki nilai.
Filosofi yang diusung pun sederhana, tetapi kuat: “Hidup dengan ilmu akan mudah, hidup dengan seni akan indah, hidup dengan agama akan terarah.”
Baca Juga: Cerpen Wayang Irawan Bagian 1: Kerinduan Seorang Anak kepada Ayahnya
Wayang Tak Sekadar Tontonan
Semangat tersebut mengingatkan pada pendekatan dakwah yang selama ini lekat dengan figur Sunan Kalijaga. Dalam pemahaman masyarakat, budaya termasuk wayang digunakan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pendekatan itu memperlihatkan bahwa dakwah dan kebudayaan bisa bertemu dalam satu ruang. Tradisi tidak harus ditinggalkan, melainkan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan kebaikan.
Begitu pula dengan pagelaran di Warutunggal. Wayang dipandang bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai warisan budaya yang sarat pesan tentang kejujuran, kesetiaan, tanggung jawab, kepemimpinan, kesabaran, hingga perjuangan.
Di dalam cerita wayang juga tersimpan gambaran tentang akibat keserakahan dan kesewenang-wenangan. Nilai-nilai tersebut tetap relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang.
Pengajian Jadi Siraman Rohani
Sebelum kelir dibuka, pengajian menjadi ruang untuk memberikan siraman rohani kepada masyarakat. Dengan konsep tersebut, acara diharapkan tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga tuntunan.
Bagi warga, agama memberikan arah dan nilai, sedangkan budaya menjadi salah satu jalan untuk mempererat hubungan antarmanusia dan menjaga identitas masyarakat.
Inisiatif itu sekaligus menjadi pesan bahwa melestarikan budaya tidak harus membuat masyarakat menjauh dari agama. Begitu pula menjalankan agama tidak perlu dimaknai sebagai memusuhi budaya.
Selama keduanya ditempatkan secara bijak, agama dapat menjadi ruh sementara budaya menjadi wadah untuk menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.
Baca Juga: Meriahkan HUT ke-81 RI di Magetan, Ki Damar Bakal Pentaskan Lakon Kresna Gugah
Jadi Bagian Peringatan HUT RI
Pagelaran tersebut juga digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Bagi masyarakat Warutunggal, momentum kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan hiburan.
Kegiatan itu sekaligus menjadi ruang untuk mengenang jasa pahlawan, mengirim doa bagi mereka yang telah gugur, serta mengingat kembali perjalanan panjang perjuangan bangsa.
Kemerdekaan yang dinikmati sekarang tidak datang dengan mudah. Ada pengorbanan jiwa, raga, dan harta dari para pendahulu yang harus terus dikenang.
Karena itu, warga berharap kegiatan budaya dan keagamaan ini bisa menjadi pengingat untuk menjaga persatuan. Guyub rukun dan kepedulian antarwarga ditempatkan sebagai bagian penting dari cara mengisi kemerdekaan.
Perbedaan pun tidak dipandang sebagai alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman menjadi kekuatan untuk hidup berdampingan dan menjaga kebersamaan.
Wariskan Budaya ke Generasi Muda
Masyarakat Warutunggal juga berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada satu momentum. Budaya perlu terus dirawat, dikenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sebab, keberlanjutan budaya sangat bergantung pada kesediaan generasi muda untuk mengenal dan mencintainya. Wayang, seni, dan tradisi akan tetap hidup jika masih ada yang mau mempelajari serta meneruskannya.
Di saat yang sama, nilai keagamaan tetap menjadi pedoman agar tradisi tidak kehilangan arah.
Pada akhirnya, 29 Agustus 2026 di Warutunggal bukan hanya tentang pagelaran wayang kulit atau pengajian. Ini menjadi ikhtiar warga untuk mempertemukan seni, tradisi, ilmu, agama, dan semangat kemerdekaan dalam satu ruang kebersamaan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani