Jawa Pos Radar Madiun – Peternak ayam petelur di Magetan tengah menghadapi tekanan ganda.
Harga pakan fabrikasi terus meningkat, sementara harga jual telur merosot hingga disebut berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) dan titik impas atau break even point (BEP).
Kondisi tersebut paling dirasakan peternak rakyat berskala kecil.
Dari total populasi sekitar 2,9 juta ekor ayam petelur di Magetan, sekitar 80 persen dikelola peternak dengan kepemilikan di bawah 5.000 ekor.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Magetan Nur Haryani mengatakan, kenaikan biaya produksi yang tidak diimbangi harga jual membuat ruang keuntungan peternak semakin tergerus.
’’Pakan naik hampir tiap minggu sementara harga telur merosot tajam di bawah BEP. Kondisi ini sangat berat dialami peternak kecil,’’ ujar Nur, Minggu (16/8).
Nur menilai persoalan tersebut membutuhkan intervensi dan kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah pusat maupun daerah.
Salah satu peluang yang diharapkan mampu membantu peternak adalah kebutuhan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saat ini terdapat 61 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Magetan.
Menurut Disnakkan, puluhan SPPG tersebut berpotensi menyerap hingga tujuh ton telur dalam sekali siklus menu.
Potensi pasar itu diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memperbesar serapan telur produksi peternak lokal.
’’Semestinya peternak lokal bisa menikmati potensi serapan MBG sesuai arahan prioritas produk lokal. Namun realisasi di lapangan diakui belum sesuai ekspektasi,’’ ungkapnya.
Magetan tercatat memiliki sekitar 1.039 peternak ayam petelur.
Produksi telur tidak hanya dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan daerah, tetapi juga dikirim ke berbagai wilayah lain.
Namun, tekanan harga pakan dan rendahnya harga jual membuat peternak harus berhitung lebih ketat untuk mempertahankan usahanya.
Perwakilan Peternak Ayam Petelur Magetan Muhammad Ali mengatakan, sebagian besar peternak belum memiliki banyak pilihan selain bertahan.
Sebab, mayoritas ayam yang dipelihara masih berada pada usia produktif.
Persoalan lebih besar dikhawatirkan muncul ketika peternak harus melakukan peremajaan populasi.
Jika kondisi harga tidak membaik, kemampuan peternak membeli dan memelihara ayam pengganti berpotensi semakin terbatas.
’’Kami mencoba bertahan sekuat tenaga. Namun jika kondisi pakan dan harga jual terus menekan, proses peremajaan ayam ke depan menjadi tanda tanya besar,’’ tuntasnya. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto