PNM Hilirisasi Mesin Pencacah Rumput Berbahan Bakar Gas, Pangkas Waktu Kerja Peternak di Sarangan

Alfiah Sidiq • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:21 WIB
PNM menerapkan mesin pencacah rumput berbahan bakar gas di Sarangan untuk memangkas waktu penyediaan pakan dan meningkatkan efisiensi peternak.
PNM menerapkan mesin pencacah rumput berbahan bakar gas di Sarangan untuk memangkas waktu penyediaan pakan dan meningkatkan efisiensi peternak.

Jawa Pos Radar Madiun – Waktu peternak di Dusun Singolangu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, yang selama ini banyak tersita untuk mencari dan menyiapkan pakan ternak coba dipangkas.

Politeknik Negeri Madiun (PNM) menerapkan mesin pencacah rumput berbahan bakar gas berkapasitas minimal 300 kilogram per jam untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan rakyat.

Teknologi tersebut dihilirisasi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) PNM 2026. Tak hanya mempercepat pencacahan rumput, program tersebut juga membekali peternak dengan kemampuan pengelolaan pakan dan fermentasi hijauan agar tidak harus mencari rumput setiap hari.

Ketua Pelaksana PkM Yoga Ahdiat Fakhrudi mengatakan, selama ini penyediaan pakan masih menjadi aktivitas yang banyak menyerap waktu dan tenaga peternak.

“Peternak masih membutuhkan waktu yang cukup besar untuk mencari dan menyiapkan rumput. Kondisi tersebut menyebabkan tenaga kerja peternak banyak terserap untuk penyediaan pakan dan membatasi waktu yang dapat digunakan untuk kegiatan ekonomi lainnya,” jelas Yoga.

Berdasarkan identifikasi awal tim, mayoritas peternak membutuhkan sekitar 3–5 jam setiap hari untuk mencari rumput. Kondisi tersebut membuat waktu yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan peternakan maupun aktivitas ekonomi lainnya menjadi terbatas.

Target Pangkas Waktu Kerja Minimal 30 Persen

Menjawab persoalan tersebut, tim PNM menghilirisasi mesin pencacah rumput dengan bahan bakar gas. Teknologi tepat guna itu dirancang menyesuaikan kondisi perdesaan sehingga pengoperasiannya tidak bergantung pada daya listrik besar.

Mesin ditargetkan memiliki kapasitas pencacahan minimal 300 kilogram per jam. Dengan peningkatan kapasitas tersebut, waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk menyiapkan pakan diharapkan dapat ditekan.

Program menargetkan penghematan waktu kerja peternak minimal 30 persen. Frekuensi mencari rumput yang sebelumnya dilakukan setiap hari juga ditargetkan berkurang menjadi dua hingga tiga kali dalam sepekan.

Namun, Yoga menegaskan program tidak berhenti pada pemberian teknologi kepada peternak.

“Prinsipnya bukan hanya menyerahkan mesin kepada mitra. Kami juga melakukan transfer pengetahuan melalui pelatihan pengoperasian, perawatan, serta pendampingan agar teknologi dapat dimanfaatkan dan dikelola secara mandiri oleh peternak,” ujarnya.

Baca Juga: Bantu UMKM Naik Kelas, PNM Kenalkan Teknologi Roasting Kopi Otomatis untuk Dongkrak Nilai Jual

Peternak Dibekali Teknik Fermentasi Pakan

Pendampingan dilakukan mulai pemantauan kondisi lapangan, sosialisasi, perancangan dan fabrikasi mesin, uji coba, hingga pelatihan pengoperasian serta perawatan.

Selain teknologi pencacahan, peternak mendapatkan pelatihan manajemen pakan dan fermentasi hijauan. Tujuannya agar penyediaan pakan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada rumput segar yang harus dicari setiap hari.

Peternak dilibatkan langsung dalam uji coba mesin, praktik fermentasi pakan, penyusunan jadwal kerja, hingga evaluasi penerapan teknologi. Sedikitnya 70 persen anggota mitra ditargetkan mampu membuat silase secara mandiri.

Dengan sistem tersebut, pengelolaan pakan diharapkan menjadi lebih terencana. Peternak pun mempunyai waktu lebih fleksibel untuk mengembangkan aktivitas ekonomi lain.

Efisiensi tersebut juga membuka peluang diversifikasi kegiatan ekonomi masyarakat Singolangu yang berada di kawasan Sarangan, termasuk melalui sektor perkebunan maupun pariwisata.

Dorong Kemandirian Peternak

Program hilirisasi tersebut diketuai Yoga Ahdiat Fakhrudi. Dia bertanggung jawab terhadap perencanaan, koordinasi, pengembangan dan hilirisasi teknologi, pengujian kinerja mesin, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), hingga pendampingan teknis kepada mitra.

Melalui penerapan mesin pencacah rumput dan penguatan manajemen pakan ternak, PNM berharap produktivitas meningkat sekaligus mendorong kemandirian peternak Sarangan dalam mengelola teknologi dan usaha mereka.

Program teknologi tepat guna tersebut merupakan bagian dari PkM Tahun Pendanaan 2026, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.

Kegiatan Politeknik Negeri Madiun itu didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Pendanaan 2026. (*)

Editor : Mizan Ahsani
mesin pencacah rumput bantuan Politeknik Negeri Madiun peternak PNM