Dongkrak Mutu Kopi Magetan, PNM Hilirisasi Mesin Pengering Kopi Surya dan Gas untuk BUMDes Karya Bak

Alfiah Sidiq • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:25 WIB
PNM hilirisasi mesin pengering kopi energi surya dan gas untuk meningkatkan mutu dan daya saing kopi BUMDes Karya Bakti Magetan.
PNM hilirisasi mesin pengering kopi energi surya dan gas untuk meningkatkan mutu dan daya saing kopi BUMDes Karya Bakti Magetan.

Jawa Pos Radar Madiun – Ketergantungan terhadap cuaca dalam proses pengeringan kopi di Desa Ngiliran, Kecamatan Panekan, coba dikurangi.

Politeknik Negeri Madiun (PNM) menghilirisasi mesin pengering kopi berbasis energi surya dan gas untuk membantu BUMDes Karya Bakti menghasilkan biji kopi dengan mutu lebih konsisten.

Teknologi tersebut ditargetkan mampu mengeringkan sekitar 50–70 kilogram kopi dalam sekali proses atau batch. Sistem pengeringan dirancang bekerja pada suhu sekitar 40–60 derajat Celsius dengan energi matahari sebagai sumber panas utama dan gas LPG sebagai sumber panas cadangan.

Ketua Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) PNM Imam Basuki mengatakan, teknologi itu dikembangkan untuk menjawab kendala pengeringan kopi yang selama ini masih mengandalkan penjemuran terbuka.

“Permasalahan utama mitra berada pada proses pengeringan kopi yang masih dilakukan secara tradisional. Ketergantungan terhadap kondisi cuaca menyebabkan proses pengeringan kurang terkendali dan kadar air biji kopi dapat menjadi tidak seragam,” ujar Imam.

Pengeringan secara terbuka membuat waktu produksi sulit dipastikan.

Selain itu, biji kopi lebih rentan terpapar debu dan kotoran. Kadar air yang tidak terkendali juga berpotensi meningkatkan risiko pertumbuhan jamur, memengaruhi kualitas sensoris, hingga mengurangi daya simpan kopi.

Baca Juga: PNM Hilirisasi Mesin Pencacah Rumput Berbahan Bakar Gas, Pangkas Waktu Kerja Peternak di Sarangan

Kombinasikan Energi Matahari dan LPG

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim Politeknik Negeri Madiun menerapkan teknologi cabinet/greenhouse dryer. Sistem dilengkapi pengaturan suhu dan waktu serta sirkulasi udara untuk menjaga proses pengeringan tetap stabil.

Pemanfaatan dua sumber panas menjadi salah satu keunggulan teknologi pengering kopi tersebut. Energi matahari digunakan ketika kondisi memungkinkan. Sedangkan LPG menjadi sumber panas alternatif saat intensitas matahari menurun.

“Energi surya dimanfaatkan sebagai sumber panas utama, sedangkan gas digunakan sebagai sumber panas cadangan ketika intensitas matahari tidak mencukupi. Dengan sistem tersebut, proses pengeringan diharapkan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca,” jelasnya.

Penerapan mesin pengering kopi tersebut juga tidak berhenti pada penyerahan perangkat. BUMDes Karya Bakti dilibatkan mulai sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, hingga pendampingan dan evaluasi.

Pengelola BUMDes mendapatkan pelatihan mengenai prinsip kerja mesin, pengaturan suhu dan waktu, pengoperasian, hingga perawatan.

Dengan begitu, teknologi yang dihilirisasi diharapkan dapat dioperasikan secara mandiri.

Baca Juga: Bantu UMKM Naik Kelas, PNM Kenalkan Teknologi Roasting Kopi Otomatis untuk Dongkrak Nilai Jual

Target Kadar Air Kopi 11–12 Persen

Sejumlah indikator telah ditetapkan dalam program tersebut. Proses pengeringan ditargetkan mampu menghasilkan kadar air biji kopi pada kisaran 11–12 persen.

Program juga membidik penurunan biji rusak minimal 40 persen serta peningkatan harga jual minimal 30 persen. Angka tersebut masih berupa target program yang selanjutnya akan dievaluasi berdasarkan hasil penerapan teknologi.

Menurut Imam, proses pengeringan memegang peranan penting dalam menentukan kualitas hasil pascapanen kopi Magetan.

“Pengeringan menjadi tahapan penting sebelum kopi masuk ke proses pengolahan berikutnya. Jika kualitas pengeringan dapat dikendalikan, maka peluang untuk menghasilkan produk kopi dengan mutu yang lebih konsisten juga semakin besar,” katanya.

Peningkatan kualitas pengeringan diharapkan menjadi pijakan bagi BUMDes Karya Bakti untuk mengembangkan produk bernilai tambah. Tidak hanya menjual bahan baku, pengelola nantinya memiliki peluang melanjutkan hilirisasi melalui proses roasting hingga pengemasan.

Program tersebut melibatkan Imam Basuki sebagai ketua pelaksana serta Farid Majedi dan Ricto Yudi Wicaksono sebagai anggota tim dosen PNM.

Kegiatan dilaksanakan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat 2026, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pengabdian Masyarakat Pemula (PMP), dengan bidang fokus pangan.

Melalui hilirisasi teknologi tersebut, PNM berharap proses pascapanen kopi di Desa Ngiliran menjadi lebih terkendali sekaligus memperkuat mutu, nilai tambah, dan daya saing kopi lokal Kabupaten Magetan. (*)

Editor : Mizan Ahsani
mesin pengering kopi kopi magetan bantuan Politeknik Negeri Madiun