Jawa Pos Radar Madiun – Petani hortikultura di lereng Gunung Lawu menghadapi tekanan ganda.
Kekeringan membuat puluhan hektare tanaman sayuran di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, rusak, sementara harga sejumlah komoditas di tingkat petani ikut terpuruk.
Krisis air selama musim kemarau membuat tanaman bawang prei (loncang), kubis, hingga cabai merah keriting mengering dan mati.
Kondisi tersebut memicu gagal panen di sejumlah lahan pertanian Sarangan.
Kasno, salah seorang petani sayur Sarangan, mengatakan minimnya pasokan air membuat tanaman sulit dipertahankan.
Sebagian tanaman yang kondisinya masih memungkinkan terpaksa dipindahkan.
‘’Tanaman rusak semua karena kurang air. Yang masih bisa diselamatkan terpaksa dicabut dan ditanam ulang di lahan yang dekat sumber air,’’ ungkap Kasno, Rabu (2/9).
Masalah petani tidak berhenti pada gagal panen. Harga sayuran di tingkat petani juga merosot tajam di tengah kerusakan tanaman akibat kekeringan.
Petani setempat, Parto Kirun, menyebut harga kubis turun dari Rp 4 ribu menjadi Rp 2 ribu per kilogram. Artinya, harga komoditas tersebut merosot sekitar 50 persen.
Penurunan lebih tajam terjadi pada bawang prei. Harganya terjun dari Rp 20 ribu menjadi hanya Rp 6 ribu per kilogram atau turun sekitar 70 persen.
Sementara itu, harga cabai merah keriting turun dari Rp 25 ribu menjadi sekitar Rp 18 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut semakin menekan petani hortikultura di kawasan Sarangan yang sedang menghadapi keterbatasan air.
‘’Kami sangat berharap hujan segera turun agar pasokan air kembali normal dan harga di tingkat petani kembali stabil,’’ ujar Parto Kirun. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto