Unik! Wayang Ebes dari Barang Bekas Meriahkan HUT ke-80 SMPN 1 Magetan, Dalangnya Masih Kelas 7

Ki Damar • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 06:26 WIB
Wayang Ebes memeriahkan HUT ke-80 SMPN 1 Magetan, memadukan seni wayang, barang bekas, musik, dan kreativitas siswa.
Wayang Ebes memeriahkan HUT ke-80 SMPN 1 Magetan, memadukan seni wayang, barang bekas, musik, dan kreativitas siswa.

Jawa Pos Radar Madiun – Wayang tidak harus kehilangan akar tradisinya ketika bersentuhan dengan kreativitas generasi baru. Semangat itulah yang terlihat ketika siswa SMPN 1 Magetan membawa pertunjukan berbeda ke ruang publik dalam perayaan ulang tahun ke-80 sekolah mereka.

Namanya Wayang Ebes. Sebuah inovasi yang mempertemukan seni wayang, pemanfaatan barang bekas, pesan kepedulian lingkungan, serta energi musik band dalam satu pertunjukan.

Yang membuatnya semakin menarik, dalang yang berada di balik pertunjukan tersebut bukan seniman senior. Mereka masih duduk di bangku kelas 7 SMPN 1 Magetan.

Wayang Ebes tampil di kawasan air mancur depan Pasar Baru Magetan. Kehadirannya menjadi salah satu suguhan yang mencuri perhatian masyarakat dalam rangkaian HUT ke-80 SMPN 1 Magetan.

Bukan hanya orang tua yang berhenti menyaksikan. Anak muda hingga anak-anak turut menikmati bentuk pertunjukan wayang yang tidak biasa tersebut.

Wayang, Eco, dan Beat Bertemu dalam Satu Panggung

Wayang Ebes merupakan inovasi yang digagas Kepala SMPN 1 Magetan Joko Margono.

Konsepnya membawa kebudayaan ke wilayah yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda tanpa harus meninggalkan wayang sebagai akarnya.

Ada tiga unsur yang dipertemukan.

Wayang menjadi representasi seni dan budaya tradisional. Eco membawa gagasan kepedulian terhadap lingkungan melalui pemanfaatan kembali barang bekas, sedangkan Beat menghadirkan unsur musik band yang dekat dengan anak muda.

Ketiganya kemudian dirangkai menjadi inovasi Wayang Ebes.

Pertunjukan tidak berhenti sebagai tontonan. Di dalamnya terdapat ruang bagi siswa untuk belajar kebudayaan, kreativitas, lingkungan, musik, keberanian tampil, hingga kerja sama.

Baca Juga: Makna Pisang, Beras, dan Jagung dalam Sajen Jawa, Ternyata Bukan Sekadar Makanan

Tiga Dalang Muda, Tiga Karakter Pertunjukan

Menariknya, panggung tersebut tidak hanya memperkenalkan satu bentuk seni wayang.

Ada tiga dalang muda dengan karakter pertunjukan berbeda yang mendapat kesempatan tampil di hadapan masyarakat.

Ki Duta menekuni wayang kulit. Melalui bentuk pertunjukan tersebut, kekayaan tradisi pedalangan tetap diperkenalkan kepada generasi muda.

Ada pula Ki Rega yang tampil dalam wayang sandosa. Bentuk pertunjukan ini memberikan ruang bagi perpaduan seni, gerak, visual, dan ekspresi.

Sementara Ki Mahesa membawakan Wayang Ebes, inovasi yang menjadi salah satu daya tarik dalam perayaan ulang tahun sekolah tersebut.

Ada satu kesamaan di antara Ki Duta, Ki Rega, dan Ki Mahesa. Ketiganya masih duduk di kelas 7.

Usia muda justru menjadi bagian menarik dari penampilan mereka. Seni tradisi tidak sekadar diceritakan kepada siswa melalui teori, tetapi diberikan ruang untuk benar-benar mereka praktikkan dan tampilkan kepada masyarakat.

Barang Bekas Berubah Menjadi Tokoh Wayang

Wayang Ebes juga menawarkan pendekatan berbeda dari sisi material.

Jika wayang selama ini lekat dengan material kulit maupun kayu, Wayang Ebes SMPN 1 Magetan memanfaatkan berbagai barang yang dapat digunakan kembali untuk menghasilkan karya kreatif.

Botol bekas, kardus, potongan bambu, kain yang sudah tidak digunakan, dan berbagai material lain dapat diolah menjadi bagian dari pertunjukan.

Barang yang sebelumnya dianggap tidak lagi bernilai mendapat fungsi baru melalui kreativitas.

Di sinilah pesan lingkungan masuk tanpa harus disampaikan melalui ceramah panjang.

Siswa dapat melihat secara langsung bahwa barang bekas masih bisa dimanfaatkan. Kreativitas bahkan mampu mengubah material sederhana menjadi karya yang dapat ditampilkan di hadapan banyak orang.

Pertunjukan kemudian diperkuat dengan iringan musik band. Perjumpaan antara wayang dan musik modern memberikan karakter yang berbeda dibandingkan pertunjukan wayang konvensional.

Tradisi tidak disingkirkan. Ia justru dipertemukan dengan kreativitas masa kini.

Baca Juga: Bocah 9 Tahun Tewas Tenggelam di Wisata Tawun Ngawi, Polisi Selidiki Pengelola

Wayang Masih Bisa Memikat Anak Muda

Respons penonton menjadi bagian penting dari penampilan Wayang Ebes.

Masyarakat dari berbagai kelompok usia menikmati pertunjukan tersebut. Orang tua yang telah lama mengenal wayang bisa menikmati kembali seni tersebut dalam kemasan berbeda.

Sementara generasi muda mendapatkan bentuk pertunjukan yang lebih dekat dengan keseharian mereka.

Anak-anak pun ikut tertarik melihat karakter wayang dengan bentuk yang tidak biasa.

Fenomena itu memberikan gambaran bahwa persoalan regenerasi budaya tidak selalu terletak pada apakah generasi muda masih tertarik terhadap tradisi atau tidak.

Cara tradisi diperkenalkan juga memiliki peran penting.

Wayang Ebes mencoba masuk melalui pintu tersebut. Budaya tetap menjadi fondasi, tetapi cara penyampaiannya dibuat lebih dekat dengan generasi sekarang.

Belajar Peduli Lingkungan lewat Seni

Di balik kemeriahan panggung, terdapat pesan lain yang dibawa melalui Wayang Ebes dan lingkungan.

Pemanfaatan barang bekas menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat disampaikan melalui banyak cara.

Peduli terhadap lingkungan tidak selalu harus berbentuk kegiatan formal. Seni juga dapat menjadi medium untuk mengenalkan kebiasaan memanfaatkan kembali material yang masih bisa digunakan.

Ketika siswa mengubah botol, kardus, bambu, atau kain bekas menjadi karya, mereka tidak hanya belajar membuat sebuah benda.

Ada proses mengamati, memilih material, mengembangkan ide, hingga menemukan fungsi baru dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna.

Pendekatan semacam itu membuat pendidikan lingkungan bertemu langsung dengan kreativitas.

Pesannya pun dapat menjangkau lebih luas karena karya tersebut kemudian dipertontonkan kepada masyarakat.

Baca Juga: Mengapa Ada Sajen dalam Pertunjukan Wayang? Ini Makna dan Filosofi di Baliknya

HUT Sekolah Dibawa Keluar dari Gerbang

Perayaan ulang tahun ke-80 SMPN 1 Magetan juga tidak hanya berputar di lingkungan sekolah.

Pemilihan kawasan air mancur depan Pasar Baru Magetan membuat masyarakat dapat terlibat dalam kemeriahan.

Panggung sekolah berpindah ke ruang publik.

Siswa mendapatkan kesempatan memperlihatkan karya mereka kepada masyarakat, sementara warga bisa menyaksikan kreativitas yang tumbuh di lingkungan sekolah.

Kemeriahan semakin terasa dengan pembagian banyak doorprize. Hadiah tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi siswa, guru, maupun keluarga besar sekolah, tetapi juga masyarakat umum yang hadir.

Konsep tersebut membuat HUT ke-80 SMPN 1 Magetan menjadi lebih terbuka.

Sekolah tidak hanya mengundang masyarakat masuk ke dalam kegiatannya, tetapi memilih hadir langsung di tengah masyarakat.

Siswa Kelas 7 Belajar Menguasai Panggung

Bagi Ki Duta, Ki Rega, dan Ki Mahesa, pertunjukan tersebut juga memberikan pengalaman yang tidak selalu bisa diperoleh dari pembelajaran di ruang kelas.

Mereka harus berhadapan langsung dengan penonton.

Keberanian tampil, kemampuan bekerja sama, menguasai panggung, bertanggung jawab terhadap pertunjukan, hingga menghargai budaya menjadi bagian dari proses belajar.

Mereka memang masih berada di kelas 7. Namun, pengalaman tampil di ruang publik dapat menjadi bekal dalam perjalanan mereka selanjutnya.

Tidak harus seluruhnya kelak menjadi dalang atau seniman.

Pengalaman tersebut juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, dan keberanian menampilkan gagasan.

Pada saat bersamaan, mereka telah ikut memperkenalkan kebudayaan kepada masyarakat.

Di tengah perayaan HUT ke-80 SMPN 1 Magetan, Wayang Ebes akhirnya membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar tontonan.

Budaya ternyata masih mampu membuat orang tua, anak muda, hingga anak-anak berhenti dan menonton bersama. Yang dibutuhkan adalah kreativitas untuk menemukan cara baru dalam memperkenalkannya.

Dari tangan siswa kelas 7, sebuah pertunjukan sederhana di depan Pasar Baru Magetan pun menjadi ruang perjumpaan antara sekolah, masyarakat, budaya, lingkungan, dan musik.

Sebuah cara bagi sekolah berusia 80 tahun untuk menunjukkan bahwa menjaga tradisi tidak harus selalu dengan mengulang masa lalu. Tradisi juga dapat dirawat dengan memberikan kesempatan kepada generasi baru untuk mengembangkannya melalui bahasa mereka sendiri. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
wayang ebes SMPN 1 Magetan wayang kulit dalang muda