Jawa Pos Radar Madiun – Petani hortikultura di Sidorejo, Magetan, menghadapi tekanan berlapis.
Kemarau panjang membuat tanaman tomat, cabai, dan terong kekurangan air hingga terancam gagal panen, sementara harga jual sejumlah komoditas ikut anjlok.
Petani tomat Jamin Nur Wakid mengatakan, krisis air sudah dirasakan sejak awal masa tanam.
Minimnya pasokan air membuat penyiraman tidak bisa dilakukan secara optimal.
Kondisi tersebut turut menghambat penyerapan pupuk oleh akar.
Pertumbuhan tanaman pun terganggu, mulai kerdil, layu, hingga sebagian terancam mati.
’’Sejak tanam baru kena hujan sekali. Tanaman tomat dan cabai tumbuh kerdil, layu, dan mulai mati. Kami dipastikan rugi besar,’’ ungkap Jamin, Senin (7/9).
Ancaman gagal panen bukan satu-satunya persoalan. Di tengah produksi yang tertekan akibat kemarau panjang, harga jual hasil pertanian justru ikut merosot.
Harga tomat kualitas terbaik yang sebelumnya mencapai Rp5.000 per kilogram kini hanya Rp1.800 per kilogram.
Sementara tomat kualitas biasa bahkan tinggal Rp1.200 per kilogram.
Artinya, harga tomat kualitas biasa kini kurang dari seperempat harga terbaik sebelumnya.
Harga cabai tampar juga turun dari Rp26 ribu menjadi Rp21 ribu per kilogram.
Nasib tak jauh berbeda dialami petani terong Sastro Rejan. Kekeringan membuat tanaman miliknya layu dan hanya menghasilkan sedikit buah.
Tekanan semakin berat karena harga terong merosot tajam. Dari sebelumnya Rp6 ribu per kilogram, kini petani hanya mendapatkan harga sekitar Rp1.000 per kilogram.
’’Cuaca kering buat tanaman layu semua dan gagal berbuah. Dijual cuma laku Rp1.000, jangankan untung, modal tanam saja tidak bisa kembali,’’ keluh Sastro. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto