Prajurit TNI AU asal Magetan Tewas Diduga Tak Wajar, Ayah Tuntut Atensi Presiden

Aprilita Sari • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 14:08 WIB
Toni Eko Prasetyo menunjukkan foto mendiang Serda Ahmad Muzammil, anaknya yang diduga meninggal tak wajar di Halim Perdanakusuma, Jumat (11/9). (AJI PUTRA/RADAR MADIUN)
Toni Eko Prasetyo menunjukkan foto mendiang Serda Ahmad Muzammil, anaknya yang diduga meninggal tak wajar di Halim Perdanakusuma, Jumat (11/9). (AJI PUTRA/RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga Serda Ahmad Muzammil Farisa, 22, di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, Jumat (11/9).

​Prajurit muda yang bertugas sebagai Bintara Psikologi TNI Angkatan Udara (AU) tersebut dimakamkan pada Jumat dini hari setelah jenazahnya tiba di rumah duka sekitar pukul 01.00 WIB.

​Ahmad yang berdinas di Dinas Psikologi TNI Angkatan Udara (Dispsiau) Mabesau dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (10/9) sekitar pukul 03.00 WIB.

​Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, menceritakan bahwa pihak keluarga awalnya menerima informasi pada Kamis pagi dari rekan korban.

​“Jadi kami ditelepon dari Jakarta melalui teman-teman angkatan almarhum anak saya pada Kamis pagi terkait kabar duka tersebut,” kata Toni.

Baca Juga: Jadwal Moto3 Misano 2026 Hari Ini: Veda Ega Pratama Jalani FP 1 dan Practice

​Kabar awal yang beredar menyebutkan bahwa korban mengalami kecelakaan saat sedang menjalani program pembinaan.

​“Awalnya informasi memang simpang siur karena kecelakaan sejak pembinaan senior. Namun dari Dinas Psikologi tempat anak kami bekerja, infonya penganiayaan yang dilakukan senior,” ujarnya.

​Meski belum menerima salinan berita acara secara resmi, keluarga mengaku sempat melihat foto hasil visum luar jenazah.

​“Sekilas dari foto yang kami terima dari visum memang ada luka di dagu dan dada lebam-lebam. Kami sendiri juga belum paham karena belum membaca berita acara secara resmi. Kami hanya mendapat rilis laporan penganiayaan,” ungkapnya.

​Kehilangan putra pertama yang baru mengabdi di lingkungan militer jelas meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi keluarga.

​“Kami keluarga yang merasa kehilangan sekali. Anak saya baru dua tahun dinas di Psikologi Mabes AU. Harapan kami bisa benar-benar mendapatkan hak dan keadilan,” tegasnya.

​Toni menyebut bahwa saat ini sudah ada pihak yang diamankan oleh otoritas berwenang untuk dimintai pertanggungjawaban.

Baca Juga: Pengembang 11 Perumahan di Ngawi Kabur, Pemkab-Kejari Kawal Penyerahan PSU

​“Karena kehilangan nyawa bagi saya sangat mutlak. Sudah ada tersangka yang ditahan di Puspom. Harapan kami benar-benar bisa diusut tuntas dan diproses seadil-adilnya. Hukum harus ditegakkan,” katanya.

​Lebih lanjut, Toni memohon atensi khusus dari para pimpinan tertinggi negara agar kasus kekerasan internal seperti ini diusut sampai ke akar-akarnya.

​“Kami mohon kepada yang berwenang, baik melalui Panglima TNI, KASAU, maupun Presiden Prabowo Subianto, agar hal ini menjadi atensi khusus dan betul-betul diperhatikan,” pintanya.

​Ia mendesak agar proses peradilan militer berjalan transparan dan tersangka dijatuhi hukuman maksimal tanpa pandang bulu.

​“Harapan kami pelakunya bisa diusut tuntas dan dihukum seberat-beratnya, setimpal dengan perbuatannya,” pungkasnya. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
Serda Ahmad Muzammil Halim Perdanakusuma TNI AU penganiayaan senior