Update Anak Pejabat Pemkab Madiun Tewas Dianiaya Senior di TNI AU: Empat Orang Ditahan Puspom

Aprilita Sari • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 17:12 WIB
MASIH BASAH: Pusara mendiang Serda Ahmad Muzammil Farisa di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat. (AJI PUTRA/RADAR MADIUN)
MASIH BASAH: Pusara mendiang Serda Ahmad Muzammil Farisa di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat. (AJI PUTRA/RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Isak tangis dan duka mendalam menyelimuti kediaman Toni Eko Prasetyo di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, pada Jumat (11/9).

Putra sulungnya yang bernama Serda Ahmad Muzammil Farisa (22) pulang dalam kondisi tak bernyawa akibat dugaan tindak kekerasan.

Korban tercatat aktif bertugas sebagai Bintara Psikologi di Dinas Psikologi TNI Angkatan Udara (Dispsiau) Mabesau.

Jenazah korban tiba di rumah duka pada Jumat dini hari sekitar pukul 01.00 WIB dan langsung memicu tangis histeris pihak keluarga.

Peti jenazah sempat dibuka sejenak untuk memastikan identitas korban, sebelum akhirnya dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat.

Baca Juga: Prajurit TNI AU asal Magetan Tewas Diduga Tak Wajar, Ayah Tuntut Atensi Presiden

Keterlibatan 4 Oknum Senior TNI AU

Ayah korban, Toni Eko Prasetyo, yang juga menjabat sebagai Kabag Protokol dan Komunikasi (Prokopim) Setda Kabupaten Madiun, membeberkan detail tragis kejadian tersebut.

Menurut Toni, putranya dinyatakan meninggal dunia pada Kamis (10/9) sekitar pukul 03.00 WIB.

Insiden maut itu diduga kuat terjadi di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Berdasarkan informasi terbaru yang dihimpun keluarga, dugaan penganiayaan tersebut dilakukan secara keji oleh empat orang oknum senior.

Tindak kekerasan itu disebut berlangsung secara bertahap sejak malam hingga dini hari.

Serda Faris dikabarkan mengembuskan napas terakhirnya saat sedang dilarikan ke UGD sebuah rumah sakit di luar kawasan Lanud Halim Perdanakusuma.

Baca Juga: Voli Putri Asian Games 2026: Korea Incar Emas, Lee Da-hyun Cs Bisa Jumpa Jepang dan Indonesia

Luka Visum dan Pengakuan Sang Ayah

Toni menceritakan bahwa pihak keluarga awalnya menerima informasi yang menutupi fakta sebenarnya.

‘’Awalnya kami mendapat kabar simpang siur dari teman-teman angkatannya di Jakarta pada Kamis pagi, disebut kecelakaan dalam pembinaan. Namun, informasi dari pihak Dispsiau tempat anak kami bekerja memastikan bahwa penyebab kematiannya penganiayaan,’’ terang Toni.

Meski belum menerima berita acara visum secara resmi, pihak keluarga sempat melihat foto kondisi fisik jenazah yang memilukan.

Toni menyebut terdapat luka di bagian dagu akibat benturan keras, serta luka lebam di area dada yang diduga kuat merupakan bekas pukulan para pelaku.

Kenyataan ini sangat memukul hati keluarga, mengingat korban baru dua tahun mengabdikan dirinya untuk institusi militer.

Baca Juga: Hasil Semifinal US Open 2026: Aryna Sabalenka dan Elena Rybakina ke Final

Mengadu ke Presiden dan Panglima TNI

Tidak terima nyawa darah dagingnya direnggut paksa, pejabat Pemkab Madiun ini mendesak penegakan hukum yang transparan dan seadil-adilnya.

Toni memastikan bahwa keempat terduga pelaku penganiayaan saat ini telah ditahan di Pusat Polisi Militer (Puspom).

Ia pun secara terbuka meminta bantuan dari para petinggi negara agar kasus ini dikawal secara ketat.

‘’Kehilangan nyawa anak kami adalah hal yang sangat mutlak. Kami memohon kepada pimpinan yang berwenang, mulai dari Panglima TNI, KASAU, hingga Presiden Prabowo Subianto, agar kasus ini mendapat atensi khusus,’’ pintanya.

Sebagai seorang ayah yang mencari keadilan, Toni berharap proses hukum tidak berhenti sekadar pada penahanan para tersangka.

‘’Harapan kami pelakunya diproses dan dihukum seberat-beratnya, setimpal dengan perbuatannya,’’ tandas Toni. (ril/naz)

Editor : Mizan Ahsani
Serda Ahmad Muzammil toni eko prasetyo Penganiayaan TNI AU Lanud Halim Perdanakusuma Pemkab Madiun