Jawa Pos Radar Madiun - Kepergian tragis Serda Ahmad Muzammil Farisa atau akrab disapa Faris menyisakan duka yang tak terperi bagi sang ibunda, Retno Setyorini.
Di mata sang ibu, anggota Bintara Psikologi TNI AU tersebut bukan sekadar putra sulung, melainkan tumpuan sekaligus kebanggaan keluarga yang kini direnggut paksa.
Di rumah duka kawasan Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, Jumat (11/9), Retno berusaha keras memungut ketegarannya di tengah isak tangis pelayat.
Sosok Penurut yang Tak Pernah Tinggalkan Salat
Retno mengenang Faris sebagai seorang pemuda yang pendiam, ramah, dan sangat berbakti kepada keluarga.
"Sebagai seorang ibu, hati saya benar-benar hancur. Sepanjang hidupnya, anak saya itu tidak pernah sekalipun membantah perkataan orang tua. Dia anak yang hebat dan penurut," lirih Retno.
Satu hal yang paling membekas di hati sang ibunda adalah ketaatan mendiang putra sulungnya dalam menjalankan ibadah wajib.
Meski putranya membalas pesan dengan singkat, para senior di Lanud Halim Perdanakusuma bersaksi bahwa Faris sangat disiplin menjaga salat lima waktu.
Baca Juga: Update Anak Pejabat Pemkab Madiun Tewas Dianiaya Senior di TNI AU: Empat Orang Ditahan Puspom
Kabar Duka Selepas Bangun Subuh
Kabar duka yang meruntuhkan dunianya itu datang pada Kamis (10/9) sekitar pukul 04.15 WIB.
Saat Retno menghidupkan ponselnya untuk persiapan salat Subuh, layar gawainya seketika dibanjiri rentetan panggilan tak terjawab dan pesan WhatsApp.
Firasat buruknya menguat saat ia menelepon salah satu rekan seangkatan Faris (letting 53) dan hanya diminta untuk ikhlas serta bersabar.
Kepastian pahit itu akhirnya ia temukan sendiri saat membuka grup WhatsApp paguyuban orang tua letting 53.
"Saat membaca ucapan innalillahi di grup itu, saya langsung lemas dan hancur lebur," ungkapnya pilu.
Pemakaman tanpa Upacara Militer
Jenazah Faris tiba di rumah duka pada Jumat (11/9) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.
Sejatinya, pihak kesatuan militer telah menyiapkan rencana pemakaman secara kedinasan pada pagi harinya.
Namun, naluri seorang ibu tak sanggup menahan perih melihat jenazah putranya terbujur kaku menunggu lebih lama.
Retno langsung meminta agar jenazah putra kesayangannya itu segera dimakamkan saat itu juga di pemakaman umum desa setempat.
Di tengah upaya suaminya mencari keadilan hukum, Retno kini hanya bisa berserah diri dan memanjatkan doa terbaik bagi putranya.
"Mohon doanya agar amalan almarhum diterima, dan kami yang ditinggalkan diberikan kesabaran," pungkasnya dengan helaan napas panjang. (naz)