Jawa Pos Radar Madiun – Bagi Retno Setyorini, Serda Ahmad Muzammil Farisa bukan sekadar putra sulung.
Prajurit TNI AU berusia 22 tahun yang akrab disapa Faris itu merupakan anak penurut, pendiam, ramah, dan menjadi kebanggaan keluarga.
Kini, kenangan tentang Faris tersisa di rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan.
Di tengah luka kehilangan putranya, Retno masih mengingat betul kebiasaan Faris yang selalu berusaha menjaga salat lima waktu.
’’Sebagai seorang ibu, hati saya benar-benar hancur. Sepanjang hidupnya, anak saya tidak pernah sekalipun membantah perkataan orang tua. Dia anak yang hebat dan penurut,’’ tutur Retno, Minggu (13/9).
Menjaga salat menjadi salah satu pesan yang selalu disampaikan Retno kepada Faris.
Setiap berkomunikasi melalui telepon, dia tak pernah lupa mengingatkan putranya agar tidak meninggalkan kewajiban tersebut.
Pesan itu, menurut Retno, benar-benar dipegang Faris. Dia mengaku mendapat cerita dari senior putranya di Lanud Halim Perdanakusuma bahwa Faris dikenal disiplin menjalankan salat.
Namun, Kamis (10/9) dini hari menjadi waktu yang tak akan mudah dilupakan Retno.
Sekitar pukul 04.15, selepas bangun dan bersiap melaksanakan salat Subuh, dia menyalakan ponselnya.
Rentetan panggilan tak terjawab dan pesan WhatsApp memenuhi layar. Firasat buruk seketika muncul.
Retno kemudian menghubungi salah seorang rekan seangkatan Faris dari letting 53.
Saat itu, dia belum mendapatkan penjelasan mengenai kondisi putranya dan hanya diminta bersabar serta ikhlas.
Kepastian yang menghancurkan hati justru didapat ketika Retno membuka grup WhatsApp paguyuban orang tua letting 53. Ucapan belasungkawa telah memenuhi percakapan.
’’Saat membaca ucapan innalillahi di grup itu, saya langsung lemas dan hancur,’’ ungkapnya.
Jenazah Serda Ahmad Muzammil Farisa tiba di rumah duka pada Jumat sekitar pukul 01.00.
Pemakaman secara militer semula direncanakan berlangsung pada pagi hari. Namun, keluarga meminta jenazah segera dikebumikan pada dini hari tersebut.
Semasa hidup, Serda Faris bertugas sebagai anggota Dinas Psikologi TNI Angkatan Udara (Dispsiau).
Di balik kepergian Faris, keluarga masih menantikan kejelasan mengenai peristiwa yang menyebabkan kematiannya.
Keluarga sebelumnya menyebut menerima informasi bahwa Faris diduga mengalami penganiayaan oleh senior.
Dugaan penganiayaan Serda Faris tersebut masih memerlukan pengusutan dan keterangan resmi dari pihak berwenang.
Keluarga berharap perkara yang merenggut putra sulung mereka dapat diusut hingga tuntas.
Bagi Retno, kehilangan itu meninggalkan luka mendalam. Di tengah proses mencari kejelasan mengenai kematian putranya, dia kini menggantungkan kekuatan pada doa.
’’Mohon doanya agar amalan almarhum diterima dan kami yang ditinggalkan diberikan kesabaran,’’ pungkasnya. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto