Sumber Air di Magetan Mulai Menyusut, BMKG Peringatkan Ancaman Kekeringan

Aprilita Sari • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 18:18 WIB
DEBIT MENYUSUT: Kondisi salah satu bendungan di Kabupaten Magetan yang mengalami penyusutan debit air akibat kemarau panjang.AJI PUTRA/RADAR MAGETAN
DEBIT MENYUSUT: Kondisi salah satu bendungan di Kabupaten Magetan yang mengalami penyusutan debit air akibat kemarau panjang.AJI PUTRA/RADAR MAGETAN

Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman kekeringan mulai membayangi Kabupaten Magetan. Musim kemarau panjang berdampak pada menyusutnya cadangan air permukaan di sejumlah wilayah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pun meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekurangan air pada puncak musim kemarau.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika Tingkat Madya Stasiun Geofisika Kelas III BMKG Nganjuk Setiyaris mengatakan, pengelolaan air menjadi perhatian penting di tengah kondisi kemarau panjang.

Menurut dia, masyarakat perlu mulai menyesuaikan pola penggunaan air bersih. Terutama dengan mengutamakan kebutuhan pokok dan menghindari pemakaian air secara berlebihan.

‘’Penggunaan air bersih perlu dilakukan secara bijak. Masyarakat diimbau menghemat air dan mengutamakan pemanfaatannya untuk kebutuhan yang penting,” ujarnya, Senin (21/9).

Setiyaris menjelaskan, menyusutnya ketersediaan air permukaan perlu diantisipasi sejak dini. Sebab, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pemenuhan kebutuhan air masyarakat apabila kemarau berlangsung berkepanjangan.

Karena itu, langkah penghematan air bersih menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko kekurangan air selama musim kemarau.

Selain ancaman kekeringan, BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Cuaca panas selama musim kemarau dapat membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga mudah terbakar.

Risiko tersebut dapat meningkat ketika kondisi cuaca disertai angin kencang. Hembusan angin berpotensi mempercepat perambatan api apabila terjadi kebakaran di kawasan dengan vegetasi kering.

Karena itu, masyarakat diminta menghindari aktivitas yang berpotensi menimbulkan sumber api di lahan kering. Kewaspadaan tersebut diperlukan untuk mencegah munculnya titik api yang dapat berkembang menjadi kebakaran lebih luas.

Di sisi lain, BMKG meminta masyarakat dan instansi terkait terus memantau perkembangan informasi cuaca. Pembaruan kondisi cuaca dinilai penting sebagai dasar untuk melakukan langkah antisipasi terhadap potensi bencana selama musim kemarau.

‘’Langkah antisipasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mengurangi risiko dampak kekeringan, karhutla, maupun angin kencang selama musim kemarau,” tandasnya. (ril/naz)

Editor : Hengky Ristanto
kabupaten magetan kebakaran hutan dan lahan kemarau panjang kekeringan bmkg