Data yang dihimpun dindikpora, terdapat 28 siswa SMP yang putus sekolah di tahun ini. Sementara di jenjang SD 25 siswa, dan di jenjang SMA/SMK sebanyak 18 siswa. ‘’Ada yang sembuh dan mau kembali ke sekolah. Tapi ada pula yang memutuskan untuk benar-benar putus sekolah,’’ terangnya.
Suwata tunjuk contoh siswa di salah satu SMP. Dia enggan sekolah lantaran kecanduan gim. Orang tua sudah diminta guru untuk mengarahkan anaknya supaya tidak terus-terusan bermain gim. ‘’Tapi ternyata orang tua tidak mendukung. Lalu mau bagaimana lagi,’’ ujarnya.
Selain karena faktor orang tua yang kurang suportif, Suwata juga mengatakan bahwa masalah ekonomi hingga pernikahan dini juga menjadi faktor yang menyebabkan anak putus sekolah. Bahkan, ada siswa yang sampai putus sekolah karena terpaksa harus bekerja.
‘’Yang paling disayangkan itu ketika anak putus sekolah karena kurangnya kepedulian dari orang tua,’’ sebut Suwata.
Dindikpora berupaya mengerem peningkatan angka putus sekolah di Magetan. Bila anak benar-benar tidak bisa mengenyam pendidikan di bangku formal, mereka akan diarahkan menempuh pendidikan nonformal dan penyetaraan. ‘’Kami getol mengedukasi orang tua soal pentingnya wajib belajar 12 tahun,’’ tukasnya. (mg1/naz) Editor : Hengky Ristanto