MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Bangunan di Desa Sambirejo, Jiwan, itu terbilang sangat sederhana. Lebih pas disebut gubuk ketimbang rumah. Berdinding anyaman bambu. Pun, berdiri di lahan bukan milik sendiri. Di gubuk itulah Warno dan Suratmi, istrinya, tinggal sejak 1960 silam.
Pasangan suami istri usia 84 dan 80 tahun itu tidak memilik anak kandung. Selama ini keduanya ditemani anak angkat asal Ponorogo bernama Saryatun. Namun, sejak lima tahun lalu Warno dan Suratmi kembali melewatkan hari-harinya berduaan setelah Saryatun meninggal.
Memprihatinkan lagi, Warno kini hanya bisa terbaring lemah di ranjangnya. Untuk makan harus disuapi Suratmi. Sementara, ketika buang air hanya mengandalkan ember di bawah tempat tidurnya. ‘’Tidak punya penyakit stroke seperti kabar yang beredar,’’ kata Warno, Sabtu (5/3).
Sejak Warno sakit, Suratmi yang menjadi tulang punggung keluarga. Untuk mendapatkan penghasilan, perempuan sepuh itu memulung botol dan gelas plastik bekas. Pergi pagi dan baru pulang sekitar pukul 17.00. Sepekan sekali hasilnya memulung disetor ke pengepul. Hasilnya pun tidak seberapa, hanya sekitar Rp 30 ribu.
Dinding rumah Warno yang hanya terbuat dari anyaman bambu membuat pria itu kerap kedinginan saat malam hari hingga harus mengenakan selimut dobel. ‘’Bangunan itu dulu dibeli dari seseorang, kalau tidak salah harganya Rp 750 ribu waktu itu,’’ sebut Supritain, salah seorang tetangganya.
Kondisi Warno dan Suratmi mengundang keprihatinan pemdes setempat. Pun, rutin menyalurkan bantuan pemerintah berupa BPNT sebesar Rp 200 ribu setiap bulan. ‘’Akan kami berikan perhatian secara berkelanjutan,’’ kata Kasi Pemerintahan Desa Sambirejo Bagus Yulianto.
Pihak pemdes bakal menggandeng bhabinkamtibmas dan bidan desa setempat untuk mengadakan program kunjungan ke rumah pasangan lansia tersebut. Termasuk memberikan obat-obatan dan vitamin yang dibutuhkan Warno. ‘’Bagi yang ingin menyalurkan bantuan silakan datang langsung ke rumah Mbah Warno atau melalui pemdes,’’ ujar Bripka Yunus Asnawi, bhabinkamtibmas Sambirejo. (tr2/isd/c1)
Editor : Hengky Ristanto