Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Masjid Sewulan Simpan Banyak Filosofi Perkembangan Islam di Madiun

Hengky Ristanto • Minggu, 8 Mei 2022 | 14:10 WIB
BERSEJARAH: Seorang jemaah sedang keluar dari gapura masjid Sewulan. (M.R. AKROMU NIAM/JAWA POS RADAR CARUBAN)
BERSEJARAH: Seorang jemaah sedang keluar dari gapura masjid Sewulan. (M.R. AKROMU NIAM/JAWA POS RADAR CARUBAN)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Nuansa perkembangan Islam di masa lalu terasa kental di sekitar masjid Sewulan, Dagangan. Di halaman masjid terdapat pohon sawo menjulang dengan dedaunan rindang. Sementara, di bagian depan masjid ada tiga kolam untuk bersuci.


Begitu masuk kedalam, pengunjung disuguhi bangunan masjid dengan arsitektur masa lampau. ‘’Sebagian besar belum mengalami perubahan,’’ kata ketua takmir masjid Sewulan Ahmad Yani, Minggu (8/5).


Bangunan masjid itu memiliki banyak filosofi. Atap, misalnya, berbentuk limas bertingkat tiga yang menggambarkan iman, Islam, dan ihsan. Sedangkan pilar penyangganya berjumlah empat mencerminkan level perjalanan spiritual dalam Islam, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. ‘’Orang dulu kalau membangun sesuatu memang selalu mengandung nilai filosofis,’’ ungkapnya.


Yani lantas menjelaskan sejarah berdirinya masjid Sewulan. Berawal saat Kerajaan Mataram dilanda perang saudara yang memaksa Pakubuwono II melarikan diri ke Ponorogo. Tepatnya di Pondok Tegalsari milik Kiai Ageng Mohammad Besari.


Akhirnya, Kiai Besari memerintahkan seorang muridnya bernama RM Bagus Harun –belakangan dikenal dengan Kiai Basyariyah- untuk pergi ke Keraton Mataram guna membantu Pakubuwono II dalam menyelesaikan perang saudara. ‘’RM Bagus Harun akhirnya berhasil mengembalikan takhta Pakubuwono II.  Kemudian, diberihadiah berupa tanah perdikan yang sekarang menjadi Desa Sewulan,’’ bebernya.


Selain tanah, Kiai Basyariyah juga mendapat hadiah songsong dan lampit koleksi Kerajaan Mataram. Namun, dalam perjalanan pulang dibuang. ‘’Karena Kiai terkenal sangat tawadudan tak ingin ria,’’ sebut keturunan kedelapan RM Bagus Harun itu.


Belakangan Kiai Basyariyah oleh Kiai Besari diminta menyebarkan agama Islam ditempat membuang songsong dan lampit pemberian Kerajaan Mataram. ‘’Kedua benda itu akhirnya berhasil ditemukan. Tepatnya pada Jumat saat malam Laitulqadar. Orang Jawa menyebutnya dengan sewu wulan. Dari situlah nama Sewulan muncul,’’ ujarnya. (tr2/c1/isd)

Editor : Hengky Ristanto
#Kabupaten Madiun #Pemkab Madiun #islam #Masjid Al Basariyah