Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Volume Bendungan Dawuhan Kian Menyusut

Hengky Ristanto • Minggu, 24 Juli 2022 | 22:32 WIB
BERKURANG: Volume air di Bendungan Dawuhan, Sidomulyo, Wonoasri, terus menyusut sejak memasuki musim kemarau, Minggu (24/7). (DIAN RAHAYU/TRAINING JAWA POS RADAR MADIUN)
BERKURANG: Volume air di Bendungan Dawuhan, Sidomulyo, Wonoasri, terus menyusut sejak memasuki musim kemarau, Minggu (24/7). (DIAN RAHAYU/TRAINING JAWA POS RADAR MADIUN)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Naga-naganya musim kemarau kian mendekati puncaknya. Salah satunya, ditandai penyusutan drastis volume air di Bendungan Dawuhan. Bahkan, penyusutan sudah terjadi sejak Maret lalu. Para petani yang mengandalkan irigasi lahan pertaniannya dari waduk di Sidomulyo, Wonoasri, itu pun mulai waswas.


Tamiatun, petani setempat, salah seorang di antaranya. Meski sawahnya dekat bendungan, jika vilme air menyusut, pengairan sawahnya akan terpengaruh. Apalagi, dia bukan petani yang memiliki cukup modal untuk membeli solar dan pupuk yang terus naik harganya. ‘’Bingung karena sumur juga kadang kering, biaya disel mahal,’’ tuturnya, Minggu (24/7)


Ada 10 desa di tiga kecamatan yang bergantung pada bendungan ini. Sehingga, air harus dibagi agar semua mendapatkan suplai irigasi cukup untuk masa tanam (MT) padi musim ini. ‘’Saat ini sisa 1,5 juta meter kubik dari kapasitas 3,9 juta meter kubik,’’ ungkap Agung Wirasa, petugas operasi Bendungan Dawuhan.


Agung menambahkan sudah beberapa bulan terakhir terus menyusut hingga tersisa kurang dari setengahnya. Padahal pada musim hujan lalu air sampai meluap. Namun, menurut dia, kondisi saat ini masih wajar dan relatif aman. ‘’Sejauh ini dalam jalur SOP (standard operating procedure). Terus kami pantau agar jika ada hal yang tidak diinginkan bisa diantisipasi,’’ ujarnya.


Menurut dia, situasi ini sudah diperhitungkan melalui rencana tahunan operasi waduk (RTOW). Bahkan, dari awal tahun pihaknya aktif melakukan sosialisasi ke himpunan petani pengguna air (HIPPA) di wilayah Kecamatan Madiun, Balerejo dan Wonoasri.


Sosialisasi terkait rencana tata tanam global (RTTG). Sejatinya, imbuh dia, persawahan di sekitar bendungan dalam setahun hanya bisa dua kali MT padi, dan satu kali MT palawija. ‘’Ini di daerah atas (bendungan) beberapa sudah beralih tanam ketela, jagung dan sebagainya. Ada juga yang masih padi,’’ ungkapnya.


Petani yang ingin semua tanam padi masih bisa. Tetapi, pada MT padi kemarau, perlu tambahan dari air untuk meng-cover kebutuhan pengairannya. Sebab, disesuaikan ketersediaan air di bendungan. Jika dipaksakan digunakan sampai habis, berbahaya bagi fisik bendungan. ‘’Tidak boleh sampai kering. Paling sedikit harus ada 250 ribu meter kubik. Nanti efeknya fisik bendungan mudah rusak jika tidak terjaga stabilitas suhu di dalamnya,’’ jelasnya. (tr4/sat)

Editor : Hengky Ristanto
#kota madiun #Pemkab Madiun #Bendungan Dawuhan