Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Wisata Kawasan Hutan di Madiun Kian Sunyi

Hengky Ristanto • Senin, 1 Agustus 2022 | 01:24 WIB
ASRI TAPI SUNYI: Sejumlah pengunjung menikmati dinginnya air sungai berbatu yang menjadi ikon Wanawisata Grape kemarin (30/7). Sejumlah objek wisata kawasan hutan di Kabupaten Madiun kian sepi. (DIAN RAHAYU/TRAINING JAWA POS RADAR MADIUN)
ASRI TAPI SUNYI: Sejumlah pengunjung menikmati dinginnya air sungai berbatu yang menjadi ikon Wanawisata Grape kemarin (30/7). Sejumlah objek wisata kawasan hutan di Kabupaten Madiun kian sepi. (DIAN RAHAYU/TRAINING JAWA POS RADAR MADIUN)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Keasrian objek wisata alam di kawasan hutan tidak lagi memikat hati wisatawan. Hutan Pinus Nongko Ijo, Kare, misalnya. Kini rata-rata hanya dikunjungi 150-200 pelancong setiap weekend. Padahal, dulu bisa mencapai 1.000 pengunjung. Minim fasilitas memadai dan sajian kuliner yang monoton jadi penyebab utamanya. ‘’Toilet kurang terawat, gazebo juga banyak yang sudah reyot,’’ keluh Feronica, pengunjung asal Pacitan, Minggu (31/7).


Hendrianto, salah seorang anggota pengelola objek wisata alam di bawah naungan Perhutani, tidak dapat mengelak. Dia dan kawan-kawannya sudah menyadari kekurangan itu. Menurut dia, ketiadaan musala dan lahan parkir mobil menjadi pekerjaan rumah (PR). ‘’Kami masih terkendala dana,’’ akunya.


Pihaknya sudah berusaha optimal merawat dan mempercantik spot foto yang ada. Namun, menurunnya jumlah pengunjung berdampak signifikan terhadap pemasukan. Bahkan, untuk operasional sehari-hari saja kurang. Belum lagi hasil penjualan tiket harus dibagi dengan Perhutani. ‘’Tidak ada bantuan sama sekali. Dari bagi hasil dikumpulkan dan disisihkan kalau ada. Tapi, seringnya minus,’’ ungkapnya.


Wanawisata Grape, Wungu, juga bernasib sama. Objek wisata dengan ikon sungai berbatu di tepi hutan dan hamparan sawah itu lambat laun kian sunyi. Bahkan, lebih minim pengunjung dibanding Nongko Ijo. Padahal, fasilitas lebih lengkap, meski banyak yang kurang terawat. ‘’Weekend hanya 100 sampai 150 pengunjung. Itu pun sebagian besar ke rumah makan di seberang jalan,’’ kata Deni Wilis, koordinator pengelola wanawisata tersebut.


Deni mengakui bahwa Grape masih kalah dengan tempat wisata alam daerah Magetan yang lebih menarik dan variatif. Kendati begitu, timnya tidak dapat berbuat banyak karena memang faktor pembiayaan. Sama seperti Nongko Ijo, hasil penjualan tiket Grape juga bagi hasil dengan Perhutani. ‘’Rencana kami akan mengadakan event motor trail agar ramai lagi. Masih menunggu dananya terkumpul,’’ ujarnya. (tr4/c1/sat)

Editor : Hengky Ristanto
#Pariwisata #Kabupaten Madiun #Pemkab Madiun