MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Kondisi industri gula merah di Kecamatan Kebonsari seolah hidup segan mati tak mau. Satu per satu perajin komoditas tersebut berguguran. Faktor tenaga kerja disebut sebagai biang semakin meredupnya home industry tersebut.
Sugito, salah seorang perajin, menyebutkan bahwa pada era 2000-an lalu di Kecamatan Kebonsari terdapat sekitar 100 home industry gula merah. Namun, saat ini tinggal empat yang masih bertahan. ‘’Dulu, setiap pabrik gula putih produksi, kami juga ikut produksi. Sekarang hanya menerima pesanan,’’ ujarnya, Selasa (24/8).
Sugito mengatakan, saat ini tidak banyak warga yang mau bekerja di home industry gula merah. Generasi sekarang lebih memilih jenis pekerjaan yang beban kerjanya ringan. Tak sedikit pula yang memutuskan menjadi pekerja migran di luar negeri. ‘’Proses produksinya masih manual. Jadi, di fisik memang berat,’’ tutur warga Desa Pucanganom itu.
Dia mengaku kini memilih kulakan gula merah dari Tulungagung saat mendapat banyak pesanan. Pun, harganya lebih murah. Hanya Rp 10 ribu per kilogram. ‘’Yang masih sering pesan itu pabrik kecap di Ngawi. Setiap minggu minta dikirim delapan kuintal,’’ ungkapnya.
Meski sudah tidak rutin berproduksi, Sugito mengaku belum memiliki niat berpaling dari home industry gula merah. Dia berusaha tetap bertahan sembari mengembangkan alat-alat produksinya dengan yang lebih modern. ‘’Selama ini bahannya (tebu, Red) hasil tanam sendiri. Mudah-mudahan nanti bisa beli mesin yang memadai sehingga lebih efisien dan dapat memberikan upah pekerja yang layak,’’ harapnya. (mg3/c1/isd)
Editor : Hengky Ristanto