Ya, belasan hingga puluhan kasus DBD ditemukan setiap bulan sepanjang tahun ini. Januari, misalnya, terdapat 70 kasus. Tren itu berlanjut pada Februari (35), Maret (21), April (22), Mei (25), Juni (14), Juli (15), dan Agustus (16). Jika ditotal, selama kurun delapan bulan tersebut tercatat sebanyak 218 kasus.
Kaji Mbing -sapaan Ahmad Dawami- menilai, munculnya kasus DBD saban bulan itu lantaran cuaca yang tidak menentu. Sejak memasuki 2022, saban bulan nyaris selalu diwarnai hujan hingga memunculkan banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti. ‘’Sebetulnya DBD dapat dicegah dengan 3M (menguras, mengubur, menutup, Red). Itu yang perlu digarisbawahi,’’ ungkapnya.
Dia berharap, masyarakat memahami pentingnya kebersihan lingkungan sebagai antisipasi DBD. Sedangkan soal fogging, Kaji Mbing menegaskan bahwa langkah itu bukan jurus yang jitu. Sebab, pengasapan di suatu kawasan kasus DBD hanya memberantas nyamuk dewasa. ‘’Dibandingkan fogging, yang lebih efektif untuk mengantisipasi DBD adalah kebersihan lingkungan,’’ ujarnya.
Kaji Mbing menyampaikan, sejumlah upaya bakal dilakukan terkait maraknya kasus DBD. Baik penanganan maupun pencegahannya. Salah satunya melalui pemerintah desa agar getol mengimbau warganya untuk menjaga kebersihan lingkungan. ‘’Berbagai upaya penanganan dan antisipasi akan lebih digalakkan lagi,’’ pungkasnya. (den/c1/isd) Editor : Hengky Ristanto