MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Wacana perubahan nama Madiun Umbul Square (MUS) menjadi Madiun Zoo (MZ) coba diseriusi. Sejatinya, ini bukan kali pertama objek wisata pelat merah milik Pemkab Madiun tersebut ganti nama. ‘’Umbul diambil dari nama dusun di Desa Glonggong, Kecamatan Dolopo, ini,’’ tutur Wakil Direktur MUS Agus Mahendra kemarin (14/10).
Dia mengungkapkan, pada zaman Kerajaan Ngurawan Selatan, di lokasi MUS terdapat sumber air belerang. Pun, masih ada hingga kini. Air belerang dari bawah tanah naik ke permukaan secara alami. ‘’Kalau dalam bahasa Jawa mumbul (naik). Lalu warga setempat menyebutnya umbul,’’ ungkapnya.
Selain sumber air belerang yang masih digunakan untuk ritual tradisi budaya warga setempat, Umbul juga merupakan peninggalan masa kolonial Belanda. Bangunan pendapa pernah menjadi tempat perisirahatan mereka. Pada masa kemerdekaan, pengelolaan Umbul diambil alih pemerintah. Dijadikan kebun binatang dan kolam renang. ‘’Jadi nama pertamanya Wisata Umbul Daerah Pesanggrahan (WUDP). Pesanggrahan artinya peristirahatan,’’ bebernya.
Pada 1977 pengelolaan WUDP diserahkan kepada swasta. Sejak 2012, pengelolan kembali diambil alih pemkab dan menjadikannya badan layanan usaha daerah (BLUD). Pada 2013 nama MUS menggantikan WUDP hingga saat ini. ‘’Sebagai pengelola kami menilai nama MUS lebih komersial dan marketable,’’ ungkapnya.
Sama dengan tujuan wacana peggantian nama MUS menjadi MZ saat ini. Salah satu alasannya, karena pada 2019 lalu MUS resmi menjadi lembaga konservasi satwa. Pihaknya berharap MUS bisa go regional hingga international dengan nama baru yang lebih menarik dan ikonik mengangkat nama kedaerahan yakni Madiun.
Jika kelak wacana ini disetujui, lanjut Agus, nama Umbul tidak akan hilang dan ada tempat tersendiri untuk sejarahnya. ‘’Jadi nanti bisa menyebutnya belum ke Madiun jika belum ke Madiun Zoo,’’ harapnya. (mg3/sat)
Editor : Hengky Ristanto