‘’Karena masa tanam ketiga ini tidak banyak petani yang tanam padi, jadi satu tempat diserbu banyak tikus,’’ kata Danang Supriyanto, salah seorang petani padi di Desa Ngepeh, Saradan, Rabu (9/11).
Menurut dia, tikus tidak hanya menyerang lahan padi di desanya. Tetapi juga wilayah lain sejak tahun lalu. Hanya, dampaknya tidak separah di desanya. Sebab, petani di desa lain masih kompak menanam padi di lahan mereka.
‘’Di wilayah lain tikusnya menyebar rata ke semua lahan padi. Jadi walau diserang, tiap petak sawah hanya sedikit,’’ ujarnya.
Selain tikus, hama wereng hijau juga menyerang tanaman padinya. Akibatnya, pertumbuhan padi tidak normal. Sehingga, bulir padi tidak berisi maksimal. Dibanding tikus, lanjut dia, wereng masih bisa diatasi dengan obat-obatan.
‘’Kalau tikus sulit sekali pengendaliannya. Di desa lain pernah mencoba membakar atau memberi gas beracun di sarang tikus, tetapi tidak berdampak banyak,’’ ungkapnya.
Pada panen kali ini dia merugi. Dari sekitar 2.500 meter persegi sawah yang biasanya menghasilkan 12-13 kuintal gabah. Kali ini tinggal setengahnya atau 6-7 kuintal.
‘’Harapannya, dinas terkait terjun mengecek langsung kondisi pertanian di sini dan memberi solusi agar kami tetap bisa bertani,’’ tuturnya. (mg3/sat) Editor : Hengky Ristanto