Yuliawati, salah satunya. Menahun sudah ibu rumah tangga asal Desa/Kecamatan Pilangkenceng itu menjadi kuli bangunan. Perempuan 42 tahun itu tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan kasar dan berat tersebut. Terpenting halal dan bisa membiayai sekolah anak-anaknya.
‘’Semangat biar cepat selesai,’’ katanya saat ditemui di proyek pembangunan kantor desa setempat, Kamis (10/11).
Sedari kecil dia sudah terbiasa dengan pekerjaan kasar. Dia selalu nguli jika ada proyek pembangunan fisik di desanya. Baginya, lebih baik bekerja kasar daripada berdiam diri di rumah. Terlebih saat ini biaya hidup kian mahal. Sehingga, harus kerja untuk membantu perekonomian keluarga.
‘’Ada delapan ibu yang ikut proyek ini. Adanya dan bisanya kerja seperti ini, ya disyukuri,’’ ujarnya.
Rusmiatun, juga warga setempat, tak malu dan tetap percaya diri dengan pekerjaannya sebagai kuli bangunan. Keterbatasan pendidikan dan lingkungan perdesaan membuatnya menerima keadaan untuk kerja kasar.
‘’Mau kerja di pabrik, tapi umur dan hanya lulusan SMP, sudah tidak bisa,’’ tutur perempuan 43 tahun ini.
Bahkan, Rusmiatun harus berjuang seorang diri untuk menghidupi orang tuanya yang sudah lansia. Jika tidak nguli bangunan seperti ini, mungkin tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Terlebih dia tidak punya suami untuk menggantungkan hidupnya.
‘’Sejak kecil memang sudah terbiasa kerja kasar. Lebih baik begini daripada tidak kerja,’’ aku perempuan yang tidak menikah ini. (mg3/sat) Editor : Hengky Ristanto