Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Madiun Anies Djaka mengatakan, fenomena diabetes melitus yang kini juga menyerang anak dan remaja tidak terlepas dari perubahan gaya hidup serta lingkungan.
‘’Sekarang banyak jenis makanan. Jika keseimbangan nutrisi tidak dijaga, akan lebih rentan kena penyakit,’’ ujarnya, Kamis (8/12).
Dia menyebutkan, pengendalian diabetes melitus maupun penyakit kronis lainnya sejak dini harus dikuatkan. Untuk itu, setiap puskesmas dilengkapi pos pelayanan pembinaan terpadu untuk screening kesehatan. ‘
’Gejala umum diabetes melitus itu gampang haus, lapar, dan sering kencing. Lalu, lama-lama tubuh menjadi kurus,’’ ungkapnya.
Anies menuturkan, tidak sedikit pasien DM yang usianya baru 30-an nyawanya tak terselamatkan. Ada pula kasus pasien 20 tahunan sudah terdeteksi mengidap DM. Namun, diabaikan dan tidak menjalani pengobatan sejak dini. Alhasil, kategori penyakitnya yang semula tipe 1 naik menjadi tipe 2.
‘’Dampak jika tidak diatasi sejak dini akan muncul komplikasi saraf, pembuluh darah, jantung, dan mata hingga mengakibatkan kebutaan,’’ sebutnya. ‘’Penderita DM itu seumur hidup harus bergantung pada obat-obatan dan suntikan insulin,’’ imbuh Anies.
Mengingat fatalnya dampak penyakit diabetes melitus, Anies mengimbau warga menjaga pola hidup sehat, selektif mengonsumsi makanan, dan rajin olahraga. Selain itu, melakukan kontrol secara rutin di fasilitas kesehatan terdekat
‘’Sehingga penyakit bisa terdeteksi sedini mungkin dan bisa diatasi sebelum menjadi ganas dan sulit diobati,’’ tuturnya. (mg3/isd) Editor : Hengky Ristanto