"Hasil panen bulan ini turun. Itu pula yang membuat harganya di pasaran naik," kata Mariono, salah seorang petani cabai di Desa Mojorayung, Wungu, Minggu (8/1).
Mariono saat ini memiliki sekitar 600 pohon cabai. Dua hari sekali dipanen dengan hasil sekitar 25 kilogram. Namun, sejak bulan ini menyusut hingga 50 persen lebih menjadi hanya 10-15 kilogram. "Kebetulan sekarang ini masa-masa akhir panen," sebutnya.
Menurut dia, menyusutnya hasil panen itu akibat hujan yang kerap mengguyur. Akibatnya, buah maupun pohon cabai mudah layu dan membusuk karena terlalu banyak kadar air. "Beberapa pohon bahkan mengering karena daunnya menguning dan bunganya berguguran," imbuhnya.
Mariono menambahkan, beberapa waktu lalu tanaman cabainya juga sempat terserang penyakit dan hama tikus. "Sudah kami semprot setiap minggu dan diberi obat tikus, tapi tetap saja banyak buah Lombok yang cacat," ujarnya
Sementara, cabai rawit di pasaran yang sempat menembus angka Rp 65.000 per kilogram di tingkat petani, kini sudah turun menjadi Rp 50.000. Meski begitu, nominal tersebut terbilang masih tinggi karena normalnya Rp 30.000 per kilogram dari petani. (mg3/isd) Editor : Hengky Ristanto