Melampaui harga eceran tertinggi Rp 14.000. ‘’Barangnya juga langka,’’ kata Listyowati, salah seorang pedagang, kemarin (25/1).
Harga migor curah juga ikut naik dari Rp 13.000 menjadi Rp 15.000 per kilogram. Tidak mau ketinggalan beras. Harga komoditas itu sejak awal Januari lalu terus merangkak naik. Jenis subsidi, saat ini satu kilogram harus ditebus dengan duit Rp 11.000-Rp 12.000. ‘’Biasanya hanya Rp 9.000,’’ imbuh Listyowati.
Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkop-UM) Kabupaten Madiun Toni Eko Prasetyo menyatakan, kenaikan harga migor subsidi dipicu kelangkaan akibat cuaca buruk di laut. ‘’Banyak kapal pengangkut bahan baku (migor) yang menunda berlayar,’’ tuturnya. ‘’Produksi pun jadi terhambat,’’ lanjutnya.
Sementara, kenaikan harga beras non-subsidi, kata Toni, disebabkan harga di tingkat petani dan penggilingan sudah tinggi. Gabah kering, lanjut dia, saat ini harganya mencapai Rp 6.800 per kilogram. Sedangkan beras Rp 10.000. ‘’Kalau beras bulog dijual sesuai HET sebesar Rp 9.450 per kilogram,’’ ujarnya
Dia menyebutkan, kenaikan harga gabah dipicu berkurangnya jatah pupuk subsidi serta mahalnya pupuk non-subsidi dan obat-obatan. Selain itu, akibat kelangkaan stok buntut gagal pada masa tanam lalu. ‘’Sudah kami koordinasikan dengan kabulog untuk menambah pasokan saat penyaluran ke pasar-pasar sesuai MoU,’’ kata Toni.
Khusus stok beras di bulog, Toni memastikan mencukupi untuk kebutuhan masyarakat hingga Mei mendatang. ‘’Harga-harga terus kami pantau. Termasuk nanti mendekati Ramadan yang biasanya rawan gejolak harga,’’ pungkasnya.
Meroketnya harga migor dan beras menjadi sorotan kalangan legislatif. Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Madiun Wahyu Widayat mendesak dinas terkait cepat ambil sikap. ‘’Harus segera ada langkah konkret untuk masalah ini,’’ katanya kemarin (25/1).
Perihal kenaikan harga dua bahan pokok (bapok) yang belakangan ini terjadi, Wahyu mengendus ada praktik perdagangan curang. ‘’Besar kemungkinan ada oknum tak bertanggung jawab yang mencari keuntungan pribadi,’’ duganya.
Bisa jadi, lanjut Wahyu, sejumlah komoditas sengaja ditimbun untuk mencari untung pribadi. Mengingat, Ramadan dan Idul Fitri tak lama lagi. ‘’Disperdagkop-UM bisa bekerja sama dengan pihak-pihak terkait untuk menindak oknum-oknum penimbun komoditas tertentu,’’ ujarnya.
Selain itu, Wahyu juga mendorong disperdagkop-UM melakukan pengendalian harga bapok. Dia menekankan, jangan sampai kenaikan harga dan kelangkaan migor yang parah seperti tahun lalu terulang. ‘’Tidak cuma terkait stok maupun harga migor dan beras, semua kebutuhan pokok juga harus diawasi dengan serius,’’ tegasnya. (mg3/den/isd/sat) Editor : Hengky Ristanto