Mulai dari warga sekitar, petugas Balai Besar Wilayah Bengawan Solo (BBWBS), relawan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), staf kecamatan hingga TNI/Polri. Pembersihan dinilai urgent dan harus disegerakan karena sumbatan membuat air sungai mengalir di sisi kanan dan kiri pilar jembatan.
Akibatnya, fondasi jembatan terkikis hingga setengah meter. Apalagi, jembatan ini merupakan akses penghubung Kabupaten Madiun dan Ngawi. ‘’Sehingga sangat riskan jika tidak segera dibersihkan secara berkelanjutan. Sebab bisa berdampak fatal pada konstruksi jembatan,’’ ujarnya.
Koordinator Sarpras Sungai Tanggul BBWBS Nanang Ari Mustofa menyampaikan pihaknya menerjunkan satu alat berat untuk mengangkat sampah bambrongan tersebut. Dengan dua unit truk, sampah rumpun bambu diangkut ke lapangan desa setempat yang berjarak 300 meter dari jembatan.
Sampah sengaja dipindahkan ke darat dan tidak dialirkan karena dapat menyumbat jembatan selanjutnya sebelum bermuara di Bengawan Madiun. ‘’Harus pakai alat berat karena banyak dan padatnya tumpukan sampah bambu. Tidak akan maksimal jika secara manual,’’ ungkap Nanang.
Mengingat volume sampah tidak sedikit, dia memperkirakan pembersihan butuh waktu dua sampai tiga hari. Dia mengimbau warga untuk tidak membuang sampah ke sungai apa pun. Mengingat jembatan-jembatan di anak Bengawan Solo banyak pilar sehingga berisiko nyangkut. ‘’Kendala belum terprediksi, untuk itu peralatan tetap ditempatkan di lokasi sampai pembersihan tuntas,’’ jelasnya.
Diketahui, tumpun bambu berasal dari kawasan hulu yang terbawa arus sungai saat banjir. Karena volumenya besar, nyangkut di pilar jembatan. Sehingga, semakin lama semakin mengendap hingga menjadi pulau bambrongan. (mg3/sat) Editor : Hengky Ristanto