Sedangkan target serapan Januari, 3.016 ton urea dan 1.351 ton NPK. Parna menyebut, mimimnya serapan lantaran pada bulan tersebut masa pemupukan padi sudah lewat. Sehingga, kebutuhan pupuk bersubsidi cenderung sedikit. ‘’Serapan tidak bisa dibuat per musim. Sebab, setiap bulan ada yang tanam sehingga kami alokasikan per bulan,’’ ujarnya.
Kendati demikian, lanjut Parna, tidak berdampak pada alokasi pupuk bersubsidi pada bulan berikutnya. Sebab, jatah petani merupakan akumulasi per tahun yang sudah tersistem di e-alokasi. Sehingga, petani bisa mengambil jatahnya berapa pun dan kapan pun sesuai jatah per tahun.
Menurut dia, petani boleh mengambil bulan ini sedikit dan bulan berikutnya banyak. Atau jatah bulan berikutnya diserap bulan ini juga bisa. ‘’Selama tidak melebihi alokasi yang sudah di SK (surat keputusan)-kan,’’ sebutnya.
Untuk stok pupuk bersubsidi, sejauh ini diklain aman hingga musim tanam berikutnya. Per awal Februari ini tersedia 5.280 ton urea dan 5.911 ton NPK di tiga gudang. Yakni, di gudang penyangga Pupuk Indonesia, distributor dan kios-kios. ‘’Kemungkinan masih akan bertambah stoknya pada bulan-bulan berikutnya,’’ jelasnya. (mg3/sat) Editor : Hengky Ristanto