Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Petani Simpan Gabah, Tengkulak Kelimpungan

Hengky Ristanto • Selasa, 7 Maret 2023 | 02:13 WIB
GABAH MURAH: Aktivitas memanen padi dengan mesin dos di Nglandung, Geger, kemarin (5/3). (DIAN RAHAYU/JAWA POS RADAR CARUBAN)
GABAH MURAH: Aktivitas memanen padi dengan mesin dos di Nglandung, Geger, kemarin (5/3). (DIAN RAHAYU/JAWA POS RADAR CARUBAN)
MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Memasuki panen raya padi di Kabupaten Madiun saat ini, produksi gabah dipastikan melimpah ruah. Kendati begitu, tidak membuat semringah banyak pihak. Sebab, harganya justru mendekati titik terendah.

Diketahui harga gabah saat ini anjlok dibanding panen akhir tahun lalu. Yakni, dari kisaran Rp 6.000 per kilogram menjadi Rp 4.500. ‘’Biasanya setiap panen harga gabah rendah. Sebenarnya, untuk kualitas lebih bagus dibanding panen sebelumnya,’’ kata Toyib, salah seorang petani di Nglandung, Geger, kemarin (5/3).

Kendati begitu, tidak membuat Toyib bungah. Rendahnya harga gabah membuat keuntungannya minim. Idealnya, lanjut dia, minimal harga gabah Rp 5.000 per kilogram. Alasannya, semua biaya operasional seperti pupuk dan obat-obatan juga mahal. ‘’Agar dapat untung, saya siasati dengan tidak menjual sekarang,’’ ujarnya.

Dia memilih menyimpan hasil panennya sembari menunggu harga Rp 5.000 ke atas. Syukur jika mencapai Rp 6.400 per kilogram seperti musim panen sebelumnya. Namun, akibat pilihan petani menyimpan gabah tersebut, tengkulak kelimpungan lantaran kesulitan mendapat barang.

Seperti yang dialami Adi Susanto, salah seorang tengkulak gabah di Kecamatan Geger. Menurut dia, harga gabah di tingkat petani saat ini sistemnya berbeda dengan sebelumnya. Pada musim panen sebelumnya, para tengkulak bisa bersaing atau tawar menawar harga untuk membeli gabah dari petani.

Saat ini, harga ditentukan langsung oleh pemerintah. Alias dipukul rata. ‘’Sebenarnya, harga saat ini hitungannya naik. Dari HPP (harga pokok pembelian) sebelumnya Rp 4.200 per kilogram menjadi Rp 4.550, dan kami tidak boleh menawar lebih dari itu,’’ ungkap Adi.

Imbasnya, para tengkulak kesulitan mendapat gabah bagus dengan harga yang sesuai. Pun, tidak bisa bersaing harga. Sebab, baik kualitas bagus atau rendah harganya sama. Sementara tak sedikit petani yang memilih menggiling sendiri dan menjual dalam bentuk beras atau minimal gabah kering giling (GKG) agar mendapat untung lebih dibanding gabah kering panen (GKP).

Menurut dia, tengkulak mengikuti ketentuan pemerintah kalau harga gabah mau disamaratakan. Tapi pihaknya juga minta agar harga pupuk dan obat-obatan distabilkan dan dimudahkan mendapatkannya. ‘’Karena selama ini harga mahal dan barangnya sering langka. Itu merugikan petani,’’ pungkasnya. (mg3/sat) Editor : Hengky Ristanto
#beras madiun #petani madiun #gabah madiun #pertanian madiun #kampung pesilat #Kota Pendekar #bahan pokok madiun