Sedangkan untuk kualitas, menurut dia, lebih bagus karena lahannya bekas ditanami bawang merah. Kontur tanah yang lebih tinggi memengaruhi pertumbuhan jagung lebih baik pada musim pengujan lalu. Sebab, jagung tidak butuh banyak air. ‘’Kalau lahannya bekas padi atau tanah urukan dan agak rendah, mungkin hasilnya biasa saja,’’ ujarnya.
Sedangkan harga jualnya melejit cukup tinggi. Yakni Rp 6.000 per kilogram hampir setara padi yang rata-rata di Rp 5.800 sampai Rp 6.200. Sedangkan tahun lalu hanya Rp 3.000 per kilogram. Pun rata-rata saat naik normal di kisaran Rp 4.000 hingga Rp 4.500 per kilogram.
Selain itu, lanjut dia, juga tidak banyak petani yang menanam jagung pada musim penghujan. Sebab banyak yang menanm padi. Apalagi banyak permintaan tapi barangnya tidak ada. ‘’Mungkin bisa turun lagi setelah Juli atau Agustus karena mulai banyak petani yang menanam jagung memasuki musim kemarau ini,’’ prediksinya.
Diberitakan sebelumnya, laham tanam jagung tahun ini di Kabupaten Madiun menyusut hingga 1.000 hektare dari total 32.000 hektare. Penyusutan tersebut merupakan dampak berkurangnya jatah pupuk bersubsidi untuk petani di lahan hutan.
Kendati begitu, Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) Kabupaten Madiun menyebutkan bahwa penurunan luas lahan belum tentu memengaruhi harga jagung. Sebab, juga dipengaruhi produktivitas skala provinsi dan nasional. (mg3/sat) Editor : Hengky Ristanto