Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Disperta Supriyadi mengatakan, sejak beberapa tahun kekeringan tidak ada lahan pertanian di Kabupaten Madiun yang mengalami kekeringan parah. Meski begitu, pihaknya petani tetap waspada. ‘’Kekeringan terakhir itu 2018-2019 di Wonoasri dan Dagangan,’’ ujarnya.
Supriyadi meminta petani melakukan percepatan tanam dengan alat dan mesin pertanian (alsintan). Selain itu, menggunakan pupuk organik untuk menjaga ekosistem tanah dan lingkungan. Kemudian, memanfaatkan sumber-sumber air seperti sumur dan waduk secara maksimal.
‘’Sebaiknya juga gabung AUTP (asuransi usaha tani pertanian, Red). Jadi, jika mengalami gagal panen bisa diklaim,’’ bebernya.
Menghadapi ancaman kekeringan, Supriyadi juga menyarankan para petani mengubah pola tanam. Jika biasanya tiga kali musim tanam selalu padi, kini bisa diselingi dengan palawija. ‘’Meski ada peralihan pola tanam, kami pastikan tidak memengaruhi status Kabupaten Madiun sebagai lumbung padi. Setiap tahun rata-rata surplus 300 ribu ton,’’ tandasnya. (mg3/isd) Editor : Hengky Ristanto