Jawa Pos Radar Madiun - Kembalinya Kelelawar Malam lewat album Kesurupan bukan sekadar nostalgia panjang setelah sembilan tahun vakum.
Rilisan ini justru menjadi penanda perubahan arah musikal yang cukup signifikan dari unit horror metal punk asal Ibu Kota tersebut.
Album yang dirilis 30 Maret lalu itu hadir setelah Jalan Gelap lama “menghantui” skena musik bawah tanah.
Baca Juga: Rilis EP “Change”, Meraung Sajikan Musik Indie Pop yang Personal dan Kontemplatif
Kali ini, mereka tidak hanya kembali, tetapi juga membawa pendekatan yang lebih berani dan terasa berbeda sejak awal.
Dari Horror Metal ke Punk yang Lebih Catchy
Album ini tidak lagi sepenuhnya mengandalkan atmosfer horror metal yang pekat. Sebaliknya, nuansa punk rock dengan sentuhan pop terasa lebih dominan.
Sejak single pembuka “Harut Marut”, identitas baru ini langsung terasa melalui aransemen yang lebih catchy dan vokal yang menancap di kepala.
Pendekatan yang sudah mulai muncul di album kedua kini terasa jauh lebih solid dan berani.
Perubahan ini membuat Kesurupan terasa lebih ramah di telinga tanpa kehilangan karakter gelap yang menjadi ciri khas mereka.
Nuansa 90-an dan Referensi Klasik Punk
Alih-alih menghadirkan horor yang berat, beberapa lagu justru membawa nuansa klasik yang mengingatkan pada band seperti Misfits.
Track seperti “Kesurupan”, “Cahaya”, “Budak Kelelawar”, hingga “Harut Marut” menunjukkan pendekatan yang lebih dinamis.
Jika sebelumnya lagu heavy seperti “Palu Keadilan” lebih mudah diterima, kini justru materi yang lebih punk terasa lebih menggigit.
Baca Juga: Firstrate Rilis Album “Passage of Time”, 9 Lagu tentang Cerita Perjalanan Hidup Anak Muda
Pendekatan ini membuat album terasa lebih segar tanpa kehilangan identitas lama.
Struktur Album yang Padat dan Tanpa Filler
Masuk ke bagian akhir, intensitas tidak menurun, justru semakin kuat.
“Khundang” membawa nuansa heavy rock, sementara “Kosong” menghadirkan sisi paling pop dan melankolis.
“Tulang Belulang” jadi klimaks emosional. Lagu ini tampil sebagai puncak album dengan chorus kuat dan potensi besar menjadi favorit saat dibawakan live.
Penutup album yang diisi pembacaan puisi untuk Fahri Al Maut menambah sentuhan emosional yang cukup dalam.
Kesurupan menunjukkan bahwa Kelelawar Malam tidak hanya kembali, tetapi juga berevolusi.
Album ini menjadi bukti bahwa perubahan arah tidak selalu menghilangkan identitas, justru memperkuatnya dengan cara yang lebih segar dan relevan.
Editor : Andi Chorniawan