Jawa Pos Radar Madiun – Nama Doldrey kian mencuri perhatian di skena musik keras Asia Tenggara.
Band asal Singapura ini hadir dengan pendekatan yang tidak biasa, menggabungkan agresivitas death metal dengan energi mentah hardcore punk dalam satu identitas yang mereka sebut sebagai deathpunk.
Sejak terbentuk sekitar 2018, Doldrey langsung menempatkan diri sebagai band yang tidak ingin terjebak dalam batasan genre.
Mereka justru merangkul berbagai elemen ekstrem untuk menciptakan sound yang brutal, cepat, dan penuh tekanan.
Baca Juga: EP Hyacinth dari Noire Jogjakarta: Musik Gelap, Emosional, dan Penuh Amarah Terpendam
Awal Muncul: Sound Mentah dan Agresif
Doldrey lahir dari keinginan para personelnya untuk menyatukan subkultur musik keras—hardcore, punk, dan metal—yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
Lewat EP Invocation of Doom (2019), mereka memperkenalkan karakter awal yang mentah dan agresif.
Produksi yang masih raw justru menjadi kekuatan, menghadirkan nuansa underground yang autentik.
Struktur lagu yang menghantam tanpa kompromi membuat Doldrey cepat dikenal di lingkaran skena regional.
Memperkuat Identitas: Lebih Berat dan Gelap
Pada fase berikutnya, Doldrey merilis materi seperti Only Death Is Eternal. Rilisan ini menjadi titik penting dalam perkembangan musikal mereka.
Riff gitar terdengar lebih tebal dan “chunky”, sementara atmosfer yang dibangun terasa semakin gelap dan intens. Energi brutal tetap dipertahankan, namun dengan struktur lagu yang lebih matang.
Baca Juga: Band Hardcore Punk Jogja C.H.A.I.N Tancap Gas, EP Debutnya Penuh Amarah
Respons positif dari skena underground menunjukkan bahwa Doldrey tidak sekadar keras—mereka juga berkembang secara musikal.
Puncak Eksplorasi: Celestial Deconstruction (2022)
Album Celestial Deconstruction (2022) menjadi tonggak penting dalam perjalanan Doldrey. Di rilisan ini, konsep deathpunk mereka mencapai bentuk paling matang.
Produksi terdengar lebih solid, komposisi lebih terarah, namun tetap mempertahankan chaos yang menjadi ciri khas.
Lagu seperti Blood of the Serpent memperlihatkan keseimbangan antara agresivitas dan struktur yang rapi.
Album ini juga membuka jalan bagi Doldrey untuk tampil di panggung internasional, termasuk tur ke Indonesia dan Eropa.
Editor : Andi Chorniawan