Jawa Pos Radar Madiun – Gelombang nostalgia musik era 1980-an kembali menemukan momentumnya.
Di tengah tren tersebut, grup Wijaya 80 muncul sebagai wajah baru yang menghidupkan kembali nuansa lawas dengan pendekatan modern.
Digawangi Ardhito Pramono bersama Erikson Jayanto dan Hezky Joe, proyek ini tidak sekadar bermain nostalgia, tetapi menghadirkan interpretasi baru yang terasa segar di telinga generasi sekarang.
Awal Terbentuk dan Identitas Musik
Wijaya 80 mulai diperkenalkan ke publik pada 2024 sebagai proyek kolaboratif yang berangkat dari pertemanan dan eksplorasi musik.
Baca Juga: Maxi Single Tender Bawa Telly Blue Kian Dewasa dan Liar
Nama “Wijaya 80” bukan sekadar gimmick, tetapi menjadi simbol semangat menghidupkan kembali kejayaan musik era 80-an.
Sejak awal, mereka membawa visi jelas: meramu ulang warna lama agar tetap relevan di era digital.
City Pop Lokal dengan Sentuhan Khas Indonesia
Secara musikal, Wijaya 80 mengusung city pop dengan nuansa retro yang kental.
Namun, mereka tidak hanya mengambil referensi global, tetapi juga dari musisi Indonesia seperti Fariz RM dan Candra Darusman.
Perpaduan ini melahirkan karakter unik—harmoni jazz-pop, groove khas city pop, serta sentuhan synth yang membawa atmosfer klasik.
Musik mereka terdengar lawas, tetapi tetap terasa relevan dan modern.
Nostalgia yang Kuat
Kekuatan utama Wijaya 80 terletak pada kemampuannya membangun suasana.
Lirik-lirik mereka sederhana, berbicara tentang cinta yang tulus, komunikasi yang tidak instan, hingga cerita personal yang hangat.
Baca Juga: Ssslothhh Makin Eksperimental, Ini Perjalanan Musikalitas Band Post Metal Bandung
Pendengar seolah diajak kembali ke masa kaset dan radio, saat musik menjadi pengalaman yang lebih intim.
Cepat Diterima Generasi Baru
Meski tergolong pendatang baru, Wijaya 80 langsung mendapat tempat di kalangan pendengar muda.
Lagu-lagu mereka banyak beredar di media sosial dan mulai membangun basis penggemar yang kuat.
Rilisan dalam format EP semakin mempertegas identitas mereka sebagai band dengan warna romantis, emosional, dan penuh nuansa retro.
Nostalgia yang Diolah Jadi Identitas Baru
Wijaya 80 tidak behenti pada romantisme masa lalu. Mereka justru membuka ruang baru dalam industri musik Indonesia dengan mengangkat kembali akar musikal lokal.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa warisan musik Indonesia tetap relevan jika diolah dengan perspektif baru.
Editor : Andi Chorniawan