Jawa Pos Radar Madiun - Tidak semua rilisan keras harus terdengar bising. Trio Tiresome justru memilih jalan sebaliknya.
Lewat maxi-single Umbra//Ursula, mereka tampil lebih tenang, tetapi justru terasa lebih dalam secara emosional.
Rilisan ini menandai fase baru perjalanan Firli Yogiteten, Aries Ishak, dan Sadam Mamonto.
Lebih reflektif, lebih jujur, dan jauh dari sekadar luapan keresahan harian.
Rilisan Baru dari Loverman Records
Dirilis melalui Loverman Records, Umbra//Ursula bukan hanya kelanjutan katalog, tetapi juga perubahan arah yang cukup signifikan.
Baca Juga: Lokananta Bloc Solo Simpan Jejak Musik Indonesia dari Piringan Hitam ke Era Digital
Jika sebelumnya Tiresome identik dengan energi mentah, kini mereka tampil lebih subtil.
Emosi tetap kuat, namun disampaikan dengan cara yang lebih tertahan dan terasa personal.
Dari Keresahan ke Refleksi
Tema dalam rilisan ini bergeser.
Bukan lagi sekadar kegelisahan pekerja kantoran, tetapi masuk ke wilayah yang lebih dalam—tentang kegagalan, kesalahan, dan rasa bersalah sebagai manusia.
Pendekatan ini membuat Umbra//Ursula terasa lebih universal, karena berbicara pada pengalaman yang lebih luas.
Evolusi Musik: Lebih Lembut, Lebih Tajam
Secara musikal, Tiresome masih berpijak pada post-hardcore, emo, dan alternative rock.
Namun kali ini mereka menyuntikkan nuansa baru. Hook terasa lebih pop, struktur lagu lebih cair, dan tempo tidak lagi terburu-buru.
Baca Juga: Bukan Sekadar Musik Instrumental, In Inertia Suguhkan Emosi Mendalam di Album To Whom It May Concern
Justru dari kesederhanaan ini, ketegangan emosional terasa semakin kuat.
Ada kontras antara melodi yang indah dengan lirik yang berat—menciptakan pengalaman mendengar yang rapuh sekaligus intens.
Jejak Referensi yang Halus
Pengaruh band seperti Modern Color, Basement, hingga Incubus terasa samar namun jelas.
Bukan sebagai tiruan, tetapi sebagai pijakan untuk mengeksplorasi dinamika yang lebih luas.
Proses Lintas Kota, Emosi yang Terfragmentasi
Menariknya, pengerjaan Umbra//Ursula dilakukan lintas kota antara Yogyakarta dan Gorontalo.
Jarak ini bukan sekadar teknis, tetapi juga menjadi bagian dari narasi rilisan. Ada jeda, ada ruang, dan ada proses kontemplasi yang membentuk karakter musiknya.
Editor : Andi Chorniawan