Jawa Pos Radar Madiun – Saat banyak musisi berlomba mengejar tren, White Shoes & The Couples Company justru memilih arah sebaliknya.
Mereka kembali ke masa lalu—bukan untuk tertinggal, tetapi untuk membangun identitas yang berbeda.
Band asal Jakarta ini tidak hanya menawarkan musik. Mereka menciptakan semacam “semesta” yang memadukan suara, visual, dan nuansa sinematik dalam satu paket utuh.
Musik yang Terasa Seperti Film Lama
Sejak terbentuk pada 2002 di lingkungan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), White Shoes langsung tampil dengan warna berbeda.
Baca Juga: Diskoria Hidupkan Lagi Disko 80–90-an, Musik Lama Kembali Digandrungi
Mereka memadukan pop dengan elemen jazz, funk, hingga disko yang terinspirasi dari soundtrack film Indonesia era 1970-an.
Hasilnya bukan sekadar lagu, melainkan pengalaman mendengarkan yang terasa seperti menonton film klasik—romantis, hangat, dan penuh detail.
Vintage Jadi Identitas, Bukan Tren
Ciri khas lain yang sulit dilepaskan dari White Shoes adalah gaya visual mereka.
Busana vintage seperti sepatu putih, dress klasik, hingga potongan outfit era 60–70-an menjadi bagian penting dari identitas band.
Gaya ini bukan sekadar estetika, tetapi bahasa visual yang menyatu dengan musik mereka.
Menariknya, semua itu lahir secara organik—dari kebiasaan berburu pakaian lama hingga memanfaatkan koleksi keluarga.
Nostalgia yang Terasa Dekat
Alih-alih sekadar meniru masa lalu, White Shoes menghidupkannya kembali dengan cara yang segar.
Musik mereka mampu menghadirkan kedekatan emosional, bahkan bagi pendengar yang tidak pernah hidup di era tersebut. Lagu-lagunya terasa seperti kenangan—meski belum pernah dialami.
Baca Juga: Maternal Disaster Buka Kafe, Gabungkan Musik dan Street Culture
Di sinilah kekuatan utama mereka: nostalgia yang terasa relevan.
Kolaborasi yang Sinematik
Di balik warna musik yang khas, ada kolaborasi erat antar personel.
Nama-nama seperti Sari dan Savira di lini vokal, Saleh Husein (bass), Ricky Surya Virgana (gitar), John Navid (drum), hingga Ario Nugroho membangun harmoni yang tidak hanya musikal, tetapi juga visual.
Latar belakang seni para personel membuat setiap karya terasa seperti potongan adegan film yang dihidupkan lewat suara.
Dari Indie ke Panggung Internasional
Meski berangkat dari skena independen, perjalanan White Shoes tidak bisa dianggap biasa.
Mereka telah tampil di berbagai panggung internasional, merilis ulang karya melalui label luar negeri, hingga mendapat sorotan media global.
Baca Juga: Dari Dangdut hingga Indie, Pestapora Jadi Festival Musik Paling Inklusif
Pencapaian ini menunjukkan bahwa pendekatan unik mereka justru menjadi kekuatan, bukan kelemahan.
Lebih dari Sekadar Band
White Shoes & The Couples Company bukan hanya grup musik.
Mereka adalah perpaduan antara musik, fashion, dan seni visual yang saling terhubung. Di tengah arus industri yang cepat berubah, mereka membuktikan bahwa identitas kuat jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren.
Alih-alih mengejar zaman, mereka menciptakan zaman mereka sendiri—dan justru di situlah daya tariknya.
Editor : Andi Chorniawan