Jawa Pos Radar Madiun – Kadangkala tidak semua musik keras harus terdengar keras.
Kadang, justru yang pelan yang paling lama tinggal. Itu yang ditawarkan Nouva lewat EP Catalyst.
Band asal Palu ini tidak datang dengan ledakan. Mereka memilih merambat perlahan, tenang, lalu tanpa sadar menempel di kepala.
Noise yang Tidak Ribut
Sejak terbentuk pada 2022, Nouva mengolah referensi dari My Bloody Valentine, Slowdive, hingga Deftones. Tapi mereka tidak sekadar meniru.
Di tangan Aco Bokritz, Fauzan, dan Lidya, pengaruh itu dilebur jadi lanskap suara yang mengawang.
Distorsi tetap tebal, tapi tidak menekan. Ia seperti kabut—menutup, tapi sekaligus memberi ruang.
Evolusi yang Tidak Terburu-Buru
Jejak awal mereka sudah terasa sejak “EchoDrive” (2025). Tapi di Catalyst, arah itu terasa lebih jelas. Lebih rapi, tanpa kehilangan rasa mentahnya.
Rilisan ini seperti lanjutan yang memang direncanakan, bukan sekadar kumpulan lagu.
Dari Hangat, Gelap, Hingga Pahit-Manis
Dirilis pada 14 Februari 2026 lewat Secret Society Record, Catalyst bergerak sebagai satu narasi utuh.
Setiap track punya peran, bukan berdiri sendiri. Ada pembuka yang lembut, masuk ke “Binar” yang terasa hangat, lalu turun ke “EchoDrive” yang lebih gelap.
Di bagian akhir, “Zepine” dan “Strawberry Breath” menutup dengan rasa yang ambigu—tidak sepenuhnya manis, tapi juga tidak sepenuhnya pahit.
Baca Juga: Trio Tiresome Rilis Umbra//Ursula, Beri Suntikan Pop di Musik Bising
Tentang Perubahan, Tanpa Banyak Kata
Catalyst bukan EP yang mencoba menjelaskan segalanya. Ia lebih seperti ruang—tempat emosi bergerak bebas tanpa harus diberi label.
Di sini, kehilangan tidak ditolak. Keraguan tidak disembunyikan. Semuanya dibiarkan ada, lalu perlahan berubah jadi sesuatu yang baru.
Nouva tidak berteriak untuk didengar. Mereka cukup membuat ruang—dan membiarkan pendengar masuk sendiri.
Editor : Andi Chorniawan