Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah hingar bingar musik ekstrem Indonesia, MASAKRE muncul sebagai salah satu band yang konsisten menyajikan teror sound tanpa kompromi.
Sejak kemunculan awal lewat Crawling to Perdition (2018), MASAKRE langsung mencuri perhatian.
Kuartet asal Jakarta ini mengusung racikan ekstrem antara old-school death metal, UK crust, dan Japanese d-beat—kombinasi yang terdengar kasar, cepat, dan penuh tekanan.
Di balik agresivitasnya, MASAKRE diisi oleh nama-nama yang sudah lama berkecimpung di skena bawah tanah.
Uri (Kelelawar Malam/Ghaust), Syaiful (Grave Dancers), Dirga (Shoah), dan Dimas (Obseif Kompulsif) menyatukan pengalaman mereka dalam satu proyek yang terdengar matang sejak awal.
Baca Juga: Haul Lepas Rem di Single Agenda dalam Siklon Kelabu, Lebih Agresif dari Era EP Adamar
Chemistry yang kuat membuat setiap komposisi terasa solid, bukan sekadar bising tanpa arah.
Morbid Extinction: Singkat, Padat, Mematikan
EP Morbid Extinction yang dirilis empat tahun lalu menjadi salah satu buktinya. Padat, brutal, dan langsung menghantam tanpa basa-basi.
Berisi lima lagu dengan durasi sekitar sebelas menit, EP ini mengandalkan intensitas tanpa jeda. Tidak ada ruang bernapas—semuanya serba cepat, padat, dan menghantam.
Di tengah dominasi sound yang cenderung seragam, Morbid Extinction membawa karakter yang lebih liar dan tidak mudah ditebak.
Salah satu daya tarik Morbid Extinction ada pada produksinya yang terasa raw namun tetap tajam. Gitar berdistorsi tebal, bass menggeram, dan drum menghantam dengan ritme tanpa kompromi.
Vokal growl yang kasar melengkapi keseluruhan atmosfer gelap yang menjadi identitas kuat MASAKRE.
Dirilis melalui Pulverised Records, EP ini menandai bahwa MASAKRE tidak hanya diperhitungkan di level lokal, tetapi juga mulai menembus radar global.
Editor : Andi Chorniawan