Jawa Pos Radar Madiun – Sebelum musik indie jadi arus besar seperti sekarang, Pure Saturday sudah lebih dulu berjalan di jalur itu.
Band asal Bandung ini menjadi salah satu nama penting yang membuka jalan bagi berkembangnya musik independen Indonesia sejak pertengahan 1990-an.
Pure Saturday terbentuk pada 1994 dari lingkungan pertemanan yang memiliki ketertarikan kuat pada musik alternatif.
Proses kreatif mereka berjalan sederhana. Berlatih di rumah dengan fasilitas terbatas, namun penuh eksplorasi.
Nama “Pure Saturday” sendiri diambil dari kebiasaan mereka berkumpul setiap hari Sabtu untuk bermusik.
Formasi yang Membentuk Identitas
Formasi awal yang dikenal luas terdiri dari Muhammad Suar Nasution (vokal, gitar), Arief Hamdani (gitar), Aditya Ardinugraha (gitar), Yudistira Ardinugraha (drum), dan Ade Purnama (bas).
Formasi ini membentuk karakter khas Pure Saturday dengan warna indie pop dan alternatif yang kuat.
Album Indie yang Jadi Tonggak
Perjalanan mereka mulai mendapat perhatian setelah merilis album debut Pure Saturday secara independen pada pertengahan 1990-an.
Meski distribusinya terbatas, album ini justru menjadi salah satu tonggak lahirnya gerakan musik indie di Indonesia.
Lagu Kosong menjadi salah satu karya yang membawa nama mereka dikenal lebih luas, terutama di kalangan anak muda.
Baca Juga: Rumahsakit, Band Britpop dari Kampus Seni yang Bertahan Lintas Generasi
Pure Saturday tidak hanya hadir sebagai band, tetapi juga sebagai pemicu lahirnya banyak band indie lain, khususnya dari Bandung.
Mereka menjadi bagian dari gelombang awal yang membangun ekosistem musik alternatif Indonesia bersama band seangkatannya.
Tetap Eksis dan Relevan
Hingga kini, Pure Saturday masih aktif berkarya dengan pendekatan yang lebih matang. Meski tidak seintens dulu, pengaruh mereka tetap kuat di skena indie.
Dari Bandung, Pure Saturday meninggalkan lebih dari sekadar lagu. Mereka mewariskan semangat independen—bahwa berkarya tidak harus mengikuti arus, tetapi bisa menciptakan jalannya sendiri.
Editor : Andi Chorniawan