Jawa Pos Radar Madiun – Saat banyak musisi berlomba tampil rapi dan digital, Kelompok Penerbang Roket justru memilih jalur sebaliknya.
Berisik dan tanpa kompromi. Trio asal Jakarta ini menghadirkan kembali semangat rock klasik yang terasa semakin langka di era modern.
Dibentuk pada 2011, Kelompok Penerbang Roket (KPR) tampil dengan formasi minimalis: John Paul Patton (vokal/bass), Rey Marshall (gitar), dan I Gusti Vikranta (drum).
Meski hanya tiga orang, dentuman musik mereka terasa padat dan penuh tenaga. Tidak ada ruang kosong—semua elemen saling mengisi dengan intensitas tinggi.
Baca Juga: Pure Saturday Bandung, Pelopor Indie yang Mengubah Arah Musik Indonesia
Napas Black Sabbath
Karakter musik KPR kental dengan nuansa rock klasik 1970-an. Riff gitar berat, tempo menghentak, hingga atmosfer yang membuat mereka kerap dibandingkan dengan band legendaris seperti Black Sabbath, Led Zeppelin, hingga Deep Purple.
Namun, KPR tidak sekadar meniru. Mereka menyuntikkan identitas sendiri lewat lirik dan pendekatan musikal yang membuatnya tetap relevan di skena Indonesia.
Produktif Sejak Awal
Langkah awal KPR langsung mencuri perhatian. Pada 2015, mereka merilis dua album sekaligus—Teriakan Bocah dan HAAI.
Produktivitas itu berlanjut lewat mini album Galaksi Palapa (2018), yang memperlihatkan eksplorasi lebih luas tanpa meninggalkan akar rock klasik mereka.
Panggung yang Lebih “Buas” dari Rekaman
Kekuatan utama KPR tidak hanya di studio, tetapi juga di atas panggung. Mereka dikenal tampil tanpa basa-basi—langsung menghantam penonton dengan energi mentah.
Atmosfer konser yang intens membuat mereka cepat mendapat tempat di hati penggemar rock, bahkan hingga tampil di panggung internasional seperti Australia.
Editor : Andi Chorniawan