Jawa Pos Radar Madiun - Tidak semua kedekatan berakhir membahagiakan. Kadang, seseorang datang membuat rasa sepi terasa sedikit lebih hangat, lalu pergi dan meninggalkan kekosongan yang lebih besar.
Nuansa itu yang terasa kuat di single terbaru The Mary's Lost Gaze berjudul Wasted.
Lewat lagu ini, The Mary’s Lost Gaze melanjutkan benang cerita yang sebelumnya mulai dibangun melalui single debut, Call Me Tonight.
Jika “Call Me Tonight” terdengar seperti harapan sederhana untuk ditemani seseorang di tengah malam.
Baca Juga: Eksplorasi Rasa Themilo dengan Pure Saturday, Kolaborasi Bawakan Lagu Tangguh
Maka “Wasted” menjadi fase setelahnya — ketika kedekatan itu ternyata tidak benar-benar menyembuhkan apa pun.
Tentang Perasaan yang Terkuras
“Wasted” berbicara tentang rasa lelah setelah memberi terlalu banyak perhatian kepada seseorang yang tidak pernah benar-benar hadir.
Ada momen ketika seseorang mulai sadar bahwa hubungan yang selama ini terasa nyaman ternyata hanya berjalan sepihak.
Dan ketika semuanya selesai, yang tertinggal hanyalah rasa kosong.
Lirik seperti “you fooled me once, then did it twice” atau “why did you call me at night / just to feel right” terdengar seperti pengakuan yang akhirnya diucapkan setelah terlalu lama dipendam.
Bukan ledakan emosi yang marah, tetapi lebih seperti rasa kecewa yang perlahan diterima.
Shoegaze yang Dingin dan Intim
Secara musikal, The Mary’s Lost Gaze tetap mempertahankan karakter shoegaze yang atmosferik dan melankolis.
Lapisan gitar yang samar, vokal yang tenggelam di balik instrumen, serta tempo yang bergerak pelan membuat “Wasted” terasa intim sekaligus sunyi.
Lagu ini tidak mencoba terdengar megah atau eksplosif. Justru kesan tenggelam perlahan menjadi kekuatan utamanya.
Atmosfernya terasa seperti perjalanan malam yang panjang. Sepi, dingin, tetapi tetap emosional.
Menuju EP Perdana
“Wasted” menjadi bagian dari perjalanan menuju EP perdana The Mary’s Lost Gaze yang dijadwalkan rilis tahun ini.
Dari dua single yang sudah dilepas, band ini tampaknya sedang menyusun sebuah narasi emosional yang saling terhubung, bukan sekadar kumpulan lagu terpisah.
Editor : Andi Chorniawan