Jawa Pos Radar Madiun – Gluecollin menuangkan keresahan tentang masa depan hingga perasaan terjebak di antara dua fase hidup menjadi sebuah lagu bertajuk In Between.
Band asal Bogor itu merilis single debutnya di bawah label Tromagnon Records pada 15 Mei lalu.
Meski baru memulai langkah, Gluecollin langsung datang dengan identitas suara yang cukup yahud. Yakni, emosional, atmosferik, dan dipenuhi lapisan gitar yang mengawang.
Perpaduan Alternative Rock, Indie Pop, dan Shoegaze
Gluecollin diperkuat oleh Jidan Alriz (vokal, gitar), Septian Nurhadi Rachman (gitar), Akmal Fauz (bass), serta Rama Fadhilah (drum).
Baca Juga: Kritik Sosial Black Horses dalam Album Jahanam, Lebih Mengena dengan Lirik Bahasa Indonesia
Mereka meramu berbagai pengaruh musik mulai dari alternative rock, indie rock, indie pop, hingga shoegaze menjadi satu lanskap suara yang terasa melankolis namun tetap hangat.
Distorsi gitar yang samar, permainan ambience yang lembut, serta vokal emosional menjadi fondasi utama lagu ini.
Hasilnya, In Between terdengar seperti ruang sunyi yang perlahan dipenuhi kegelisahan.
Cerita Tentang Fase Hidup yang Membingungkan
Secara lirik, “In Between” berbicara tentang fase hidup yang sering dialami banyak orang—masa ketika seseorang merasa berada di tengah jalan.
Bukan lagi bagian dari masa lalu, tetapi juga belum benar-benar sampai ke tujuan yang diinginkan.
Gluecollin menggambarkan situasi itu lewat perasaan cemas, sedih, penuh keraguan, hingga ketidakpastian terhadap masa depan.
Namun di balik nuansa murung yang dominan, lagu ini tetap menyimpan secercah harapan kecil.
Harapan itulah yang membuat In Between tidak tenggelam sepenuhnya dalam kesedihan.
Dengan debut ini, Gluecollin menjadi salah satu nama baru dari Bogor yang layak diperhatikan di skena alternative dan indie lokal.
Editor : Andi Chorniawan