Jawa Pos Radar Madiun - Bandung kembali melahirkan nama baru yang menarik untuk diikuti.
Kolektif musik bernama Metyr resmi membuka perjalanan melalui EP debut self-titled yang dirilis pada 11 Juni lalu.
Metyr memperkenalkan diri lewat tiga lagu yang terasa jujur dan apa adanya. EP ini berisi tiga nomor berjudul "Altar", "Unbroken", dan "Haze".
Ketiga lagu tersebut bukan hadir sebagai upaya untuk menjelaskan siapa Metyr secara utuh.
Baca Juga: Rock N Roll Mafia Rilis Single PTSD, Singgung Kesehatan Mental dan Tekanan Hidup
Sebaliknya, EP ini lebih terasa seperti sapaan pertama kepada pendengar—hangat, terbuka, dan tanpa ambisi berlebihan untuk mencari perhatian.
Berangkat dari Post-Black Metal dan Blackgaze
Secara musikal, Metyr memang memiliki akar kuat pada ranah post-black metal dan blackgaze. Namun mereka tidak membiarkan dirinya terkurung dalam batasan genre.
Di tangan Metyr, elemen-elemen tersebut diolah menjadi lanskap suara yang lebih cair.
Nuansa gelap khas black metal tetap terasa, tetapi dibalut atmosfer luas dan emosional yang memberi ruang bagi interpretasi pendengar.
Pendekatan ini membuat EP debut mereka terasa cukup personal. Musik yang dihasilkan tidak berusaha menjadi agresif sepanjang waktu, melainkan bergerak mengikuti emosi yang muncul secara alami.
Dibangun dari Riff dan Kolaborasi Organik
Metyr diperkuat oleh Bryan Arkan dan Ferdian G. Maulana pada gitar, Naufal Ikhsan di posisi bass, serta Haekal Badjeber di belakang drum.
Menariknya, proses kreatif mereka tidak dibangun melalui formula yang kaku. Hampir semua lagu berawal dari sebuah riff sederhana yang kemudian berkembang melalui diskusi dan eksplorasi bersama.
Setiap personel memiliki ruang yang sama untuk menyumbangkan ide. Tidak ada aturan khusus mengenai siapa yang harus memulai atau menentukan arah lagu.
Baca Juga: Defy Kembali Menggila! Unity Jadi Pemanasan Panas Sebelum Rilis Album Devastation Manifest
Karena itulah musik Metyr terdengar organik. Komposisi mereka tumbuh dari interaksi antaranggota, bukan dari keinginan untuk menunjukkan kemampuan teknis semata.
Produksi Dikerjakan Sendiri
Semangat independen juga terlihat dalam proses produksi EP ini.
Naufal dan Haekal menangani sendiri tahap mixing dan mastering. Pilihan tersebut bukan hanya soal efisiensi biaya, melainkan bagian dari upaya menjaga karakter suara yang mereka inginkan sejak awal.
Dengan mengerjakan proses akhir secara mandiri, Metyr dapat memastikan setiap detail musik tetap sesuai dengan visi yang mereka bangun bersama.
Editor : Andi Chorniawan